Ironi Kudus #dirumahaja, Pabrik Tetap Beroperasi Normal dan ASN Tak WFH
ยทwaktu baca 2 menit

Tren kenaikan kasus COVID-19 di Kabupaten Kudus terus berlanjut. Dilansir dari corona.jatengprov.go.id, hingga Senin (7/6) kasus aktif COVID-19 di kota kretek ini mencapai 1.747.
Paling banyak jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Jateng. Kudus pun menjadi kabupaten dengan status zona merah corona.
Untuk menangani lonjakan kasus aktif itu, Bupati Kudus Hartopo mengeluarkan imbauan #dirumahaja hingga 9 Juni 2021.
Namun, yang menjadi ironi adalah imbauan itu tak dibarengi dengan kebijakan menutup sementara pasar, pabrik hingga work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Kudus.
Pantauan kumparan pada Senin (7/6) pagi, aktivitas masyarakat di Kudus terlihat normal. Pasar cenderung ramai. Arus lalu lintas pun terpantau ramai lancar. Bak hari-hari biasanya.
Apa alasannya? Bupati Kudus Hartopo buka suara. Menurut Hartopo, imbauan #dirumahaja bukan berarti pihaknya menghentikan operasional pabrik dan pasar bahkan hanya untuk sementara waktu.
"Ya imbauan di rumah saja, tetapi ekonomi masih boleh jalan seperti pabrik dan pasar. Masih berjalan seperti biasa," ujar Hartopo kepada wartawan, Senin (7/6)
Dia menjelaskan, aturan yang sudah dituangkan dalam surat edaran ini berisi imbauan agar masyarakat tidak berkeliaran di luar rumah usai jam kerja.
"Yang enggak boleh yang engga berkepentingan misal sudah pulang kerja ya tidak usah keluar rumah dulu, di dalam rumah aja. Ekonomi harus tetap jalan," jelas dia.
Hartopo juga masih enggan menerapkan sistem work from home bagi aparatur sipil negara (ASN) meski daerahnya tengah dilanda badai COVID-19.
"Kalau saya sendiri, saya enggak ada work from home (WFH), engga ada WFH aja banyak yang kena (COVID-19) apalagi kalau WFH. Kalau di sini kan terpantau kalau WFH malah jalan-jalan nanti enggak terpantau," kata Hartopo.
