kumparan
12 Feb 2019 19:13 WIB

Isak Tangis Istri Sopir Taksi yang Gantung Diri karena Pinjaman Online

Suasana rumah Zulfadhli, sopir taksi yang tewas karena gantung diri, di Kampung Waru, Parung, Bogor. Foto: Ajo Darisman/kumparan
Istri Zulfadhli, Mis, masih tak bisa membayangkan kenyataan pahit yang baru menimpanya. Sang Suami, memilih mengakhiri hidup dengan cara gantung diri diduga akibat terjerat pinjaman online.
ADVERTISEMENT
Jenazahnya ditemukan tergantung di sebuah kamar kosan tempat rekannya tinggal di Mampang, Jakarta Selatan, Senin (11/2) pukul 09.00 WIB.
Dalam surat yang ditemukan di lokasi, Zul menuliskan nekat meninggalkan istri dan 3 anaknya yang masih kecil dengan menjerat leher, karena terlilit pinjaman online. Di surat itu juga dia meninggalkan pesan buat sang istri.
“Istriku maafkan aku yang tak pernah membuat kalian bahagia,” tulis Zul dalam suratnya.
Surat yang ditemukan di dekat jasad Zulfadhli. Foto: Dok. Istimewa
Bersandar di dinding dekat pintu masuk, Mis tak henti-hentinya menangis saat kumparan menyambangi rumah kontrakannya di Kampung Waru, Parung Bogor pada Selasa (12/2) siang.
Sebuah tenda dengan terpal oranye masih berdiri di halaman kontrakannya itu, meski kursi-kursinya sudah dirapikan. Jasad suaminya sudah dimakamkan pada Senin (11/2) sore, tak jauh dari situ.
ADVERTISEMENT
Mis mengaku tak menahu soal utang pinjaman online yang menjerat suaminya dan diduga jadi penyebab Zulfadhli mengakhiri hidup.
“Abang enggak cerita, saya enggak pernah tahu soal itu,” kata Mis sembari menangis. (Dia menolak difoto saat diminta kumparan).
Suasana rumah Zulfadhli, sopir taksi yang tewas karena gantung diri, di Kampung Waru, Parung, Bogor. Foto: Ajo Darisman/kumparan
Tangisnya membuat Mur (kerabat suaminya sesama orang Padang) yang sedang melayat, ikut meneteskan air mata. Sesekali Mur memberikan motivasi agar istri kerabatnya itu tegar dengan musibah yang dialami.
Bahkan, Mis juga kembali menangis saat Mur akan bertolak dari rumahnya. Mereka berangkulan cukup lama. Mur menguatkan sambil mengusap punggung Mis.
“Yang penting sekarang anak-anakmu. Kamu yang alami jadi aku cuma bisa nasihati aja,” ujar Mur.
Suasana rumah kontrakan yang sudah mereka tempati selama empat tahun itu juga sudah sepi. Hanya tersisa satu dua tetangga yang lalu lalang dan menyempatkan singgah.
ADVERTISEMENT
Anak sulung mereka berusia 5 tahun, duduk sendirian di atas meja depan rumah. Sementara dua anak kembarnya, tertidur di dalam bersama kakak Mis.
Suasana rumah Zulfadhli, sopir taksi yang tewas karena gantung diri, di Kampung Waru, Parung, Bogor. Foto: Ajo Darisman/kumparan
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan