Isi Wawancara Ahli Strategi Gedung Putih yang Bikin Trump Murka

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Steve Bannon (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Steve Bannon (Foto: Reuters)

Kepala ahli strategi Gedung Putih Steve Bannon mengatakan hal-hal yang membuat murka Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah wawancara. Hal ini berujung pada pemecatan Bannon pada Jumat lalu.

Bannon sendiri mengatakan bahwa dia tidak sadar percakapannya dengan jurnalis Robert Kuttner akan dipublikasi di situs The American Prospect pada Rabu lalu. Namun dalam wawancara tersebut, Bannon sangat berani mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan kebijakan Trump, di antaranya soal China, Korea Utara, dan kelompok sayap kanan.

"Kita sedang dalam perang ekonomi dengan China," kata Bannon dalam situs itu.

"Hal ini ada dalam dokumen mereka. Mereka tidak malu-malu mengatakannya. Salah satu dari kami (AS atau China) akan berkuasa dalam 25 atau 30 tahun ke depan, dan bisa jadi mereka yang berkuasa," lanjut pendiri kantor berita sayap kanan radikal Breitbart.

Trump dan Steve Bannon (Foto: Reuters/Carlos Barria)
zoom-in-whitePerbesar
Trump dan Steve Bannon (Foto: Reuters/Carlos Barria)

Menurut Bannon, saat ini Amerika kalah jauh dalam sisi perdagangan dengan China.

"Jika kita terus kalah, maka lima tahun lagi, saya kira, 10 tahun paling tidak, kita akan berada di titik perubahan yang tidak akan bisa dipulihkan," kata Bannon.

Tidak hanya itu, Bannon mengungkapkan strategi Trump untuk mengalahkan China dalam perang dagang. Trump, kata Bannon, akan menggunakan undang-undang dagang AS pasal 301 tahun 1974 untuk mencegah transfer teknologi dari perusahaan AS yang berbisnis di China.

Trump telah menjalankan rencana ini. Sebelumnya Senin lalu, Trump memerintahkan penyelidikan dugaan pencurian kekayaan intelektual oleh China.

"Kami akan membalikkan keadaan. Kami menyimpulkan mereka melakukan perang ekonomi dan mereka menghancurkan kita," kata Bannon.

Komentar Bannon ini menuai reaksi dari pemerintah China yang mengatakan hubungan dagang AS-China berdasarkan asas saling menguntungkan. Perang dagang, seperti yang disebut Bannon, dianggap China adalah isu yang ketinggalan zaman.

"Perang dagang tidak punya masa depan. Perang dagang tidak menguntungkan banyak pihak, tidak menghasilkan pemenang. Kami berharap pihak-pihak terkait berhenti memandang masalah abad ke-21 dengan mental abad ke-19 atau 20," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying seperti dikutip Reuters.

Soal Korea Utara

Soal Korea Utara, Bannon sangsi ancaman serangan militer Trump terhadap Pyongyang akan terlaksana. Trump sebelumnya mengancam dengan "tembakan dan amukan" jika Korut menembakkan rudal ke Guam.

"Tidak akan ada solusi militer, lupakan saja," ujar Bannon.

"Sampai seseorang memecahkan perhitungan yang menunjukkan 10 juta orang di Seoul tidak tewas dalam 30 menit pertama oleh senjata konvensional, saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan.." lanjut dia.

Steve Bannon (Foto: Reuters/Carlos Barria)
zoom-in-whitePerbesar
Steve Bannon (Foto: Reuters/Carlos Barria)

Saat ditanya soal pandangannya antara nasionalisme ekonomi dan nasionalisme kulit putih, spesifik terkait kekerasan berbau rasialisme di Charlottesville, Bannon secara mengejutkan menentangnya. Dia bahkan menafikan etno-nasionalisme yang selama ini digadangnya sebagai ideologi.

Etno-nasionalisme adalah bentuk nasionalisme yang terdiri dari satu etnis, bahasa, dan agama. Melalui Breitbart, Bannon menyerukan pandangan ini.

"Etno-nasionalisme - itu pecundang. Itu adalah element pinggiran," kata Bannon.

Saat berbicara soal kelompok supremasi kulit putih dalam insiden Charlottesvile, Bannon mengatakan "Orang-orang ini sekumpulan badut."

Kendati demikian, Bannon mengatakan masalah rasialisme ini meningkatkan dukungan terhadap Partai Republik untuk mengalahkan Partai Demokrat.

"Partai Demokrat, semakin lama mereka bicara soal politik identitas, saya mengalahkan mereka. Saya ingin mereka bicara soal rasialisme setiap hari. Jika kelompok kiri fokus pada ras dan identitas, dan kita bicara soal nasionalisme ekonomi, kami bisa mengalahkan Demokrat," tegas dia.