Isolasi Tak Cukup Hindarkan Desa Suku Asli Amazon dari Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perawat mengukur tingkat oksigen darah penduduk asli di negara bagian Amazon, Brasil. Foto: Reuters/BRUNO KELLY
zoom-in-whitePerbesar
Perawat mengukur tingkat oksigen darah penduduk asli di negara bagian Amazon, Brasil. Foto: Reuters/BRUNO KELLY

Tres Unidos, sebuah desa suku asli di pedalaman hutan Amazon, Brasil, mengisolasi diri dari semua pengunjung luar. Berharap upaya ini bisa membuat mereka tetap aman dari ancaman virus corona.

Namun, desa-desa di pinggiran sepanjang sungai Amazon yang mengarah ke kota-kota besar mulai tertular virus corona.

Dilansir Reuters, titik-titik kematian akibat COVID-19 dikonfirmasi pada peta yang diterbitkan oleh pemerintah Brasil mengikuti sungai di bagian-bagian terpencil ini.

Sungai yang menjadi sumber kehidupan suku asli, kini layaknya sebagai garis berliku pembawa virus.

Kepala Desa Waldemir da Silva mengatakan virus itu datang pelan, seolah terbawa angin.

"Virus ini berbahaya," kata dia, yang mengenakan masker wajah putih dan hiasan kepala kayu.

"Kami mulai sakit dan mengira itu adalah pilek, tetapi orang-orang menjadi lebih buruk. Puji Tuhan anak-anak tidak terjangkit," kata pria 61 tahun itu.

Perempuan Suku Amazon. Foto: Shutter Stock

Takut Terinfeksi

Penyebaran virus memunculkan rasa takut. Ditambah dengan ketidakmampuan suku asli mendeteksi siapa saja yang sudah terjangkit namun tak bergejala. Ditambah pelayanan kesehatan berkualitas buruk. Ini bencana bagi masyarakat suku asli.

Kelompok konservasionis nirlaba, Fundacao Amazonia Sustentavel, yang berbasis di Manaus, berusaha membantu. Sejumlah alat tes disumbangkan ke desa-desa adat. Salah satunya di desa suku Kambeba.

Dari hasil pengetesan, tiga orang dinyatakan positif corona. Tenaga kesehatan setempat, Neurilene, menyatakan, hasil tersebut menambah 13 kasus yang sebelumnya terkonfirmasi di desa yang berisikan 106 orang itu.

"Kami khawatir seluruh desa terinfeksi karena banyak orang mengalami gejala dan kami tidak tahu," katanya.

"Kami berjuang agar virus itu hilang dan tidak ada yang mati, karena Manaus sangat jauh dan kami mungkin tidak sampai di sana tepat waktu untuk menyelamatkan pasien yang kritis," kata dia.

Perempuan Suku Amazon. Foto: Shutter Stock

Kambeba adalah suku di desa hulu Amazon di hutan Peru, dikenal karena keterampilan memanah mereka. Dua pria dari desa telah memenangkan medali yang bersaing di tim nasional Brasil.

Masyarakat merawat orang sakit dengan minuman panas ramuan tradisional yang diresepkan oleh tetua adat untuk menyembuhkan penyakit. Racikan itu berisi bawang putih dan lemon untuk batuk, atau mangarataia sebutan untuk jahe dalam bahasa mereka.

Virgilio Viana, kepala Fundacao Amazonia Sustentavel, mengatakan desa-desa terdekat Manaus paling rentan terhadap infeksi oleh corona.

Brasil tertinggal dari negara-negara lain dalam pengujian virus dan situasinya bahkan lebih menantang di Amazon. Pemerintah mengatakan mereka mengalami kesulitan untuk membeli tes kit di luar negeri tetapi sekarang tengah berupaya membuka sektor perekonomian.

"Tes cepat sangat penting untuk dapat mendiagnosis kasus COVID-19 sehingga protokol medis dan social distancing dapat diikuti untuk menghindari penularan," kata Viana.

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona