Israel Deportasi 2 Aktivis Global Sumud Flotilla Usai Ditahan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivis Brasil Thiago Avila dikawal ke pengadilan di kota pesisir Israel, Ashkelon, Selasa (5/5/2026). Foto: ILIA YEFIMOVICH/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Aktivis Brasil Thiago Avila dikawal ke pengadilan di kota pesisir Israel, Ashkelon, Selasa (5/5/2026). Foto: ILIA YEFIMOVICH/AFP

Israel mendeportasi dua aktivis asing yang sebelumnya ditahan setelah ikut dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel pada Minggu (10/5).

Kedua aktivis itu adalah Saif Abu Keshek, warga Spanyol keturunan Palestina, dan Thiago Ávila asal Brasil.

Mereka termasuk dalam rombongan puluhan aktivis GSF yang dicegat angkatan laut Israel di perairan internasional dekat Yunani pada 30 April lalu.

"Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, dari flotilla provokasi, telah dideportasi hari ini dari Israel," tulis Kemlu Israel di platform X setelah proses penyelidikan selesai.

X post embed

Israel juga menegaskan tidak akan membiarkan adanya upaya pelanggaran terhadap blokade Gaza.

Sementara aktivis lain yang berada di kapal dibawa ke Pulau Kreta dan kemudian dibebaskan, Abu Keshek dan Ávila sempat dibawa ke Israel untuk menjalani pemeriksaan.

Sebelumnya, Spanyol, Brasil, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak pembebasan keduanya.

Pada Rabu (6/5) lalu, pengadilan Israel juga menolak gugatan atas penahanan mereka. Kelompok hak asasi manusia (HAM) yang mendampingi kedua aktivis menyebut putusan itu "tidak sah".

Petugas Israel membawa aktivis Spanyol Saif Abu Keshek ke pengadilan di Ashkelon, Selasa (5/5/2026). Foto: ILIA YEFIMOVICH/AFP

Flotilla tersebut berlayar dari Prancis, Spanyol, dan Italia dengan tujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan serta menembus blokade Israel di Gaza.

Israel telah memblokade Gaza sejak 2007 dan mengontrol seluruh akses masuk ke wilayah tersebut. Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, wilayah itu berkali-kali mengalami kekurangan pasokan bantuan kemanusiaan.