Israel Terus Masuk ke Gaza City, Hamas Peringatkan Nyawa 2 Sandera dalam Bahaya
ยทwaktu baca 3 menit

Hamas mengeluarkan peringatan kepada Israel yang masuk semakin dalam ke Gaza City. Hamas menyebut, apa yang dilakukan Israel akan membahayakan nyawa dua sandera yang ditahan di Gaza City.
Dikutip dari Al Jazeera, Senin (29/9), sayap kelompok bersenjata Hamas Brigade Qassam mengatakan telah putus kontak dengan pejuang yang menahan sandera asal Israel, Omri Miran dan Matan Angrest.
"Setelah operasi brutal militer dan penargetan kekerasan di permukiman Sabra dan Tal al-Hawa dalam 4 jam terakhir," kata Brigade Qassam dalam keterangannya pada Minggu (28/9).
"Nyawa dua sandera ada dalam bahaya, dan pasukan pendudukan harus segera mundur dari ke selatan Road 8 dan menghentikan serangan udara selama 24 jam mulai dari pukul 18.00 malam ini, hingga upaya untuk mengevakuasi kedua tahanan tersebut," lanjutnya.
Hamas sebelumnya pernah merilis "foto perpisahan" sandera dalam upaya lain untuk menghentikan tentara Israel yang secara sistematis menghancurkan Gaza City dan membuat ratusan ribu warga Palestina yang kemarin kembali mengungsi.
Israel mengatakan ada 48 sandera di Gaza, dan 20 di antaranya masih hidup. Namun, Israel menolak menghentikan serangan meski semakin sering dituduh melakukan genosida dan keluarga sandera di Israel melakukan aksi protes menyerukan kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri serangan dan membawa pulang seluruh sandera.
Permohonan mereka tidak didengarkan pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kerabat serta pendukung para sandera menyalahkan pemerintah atas penahanan sandera yang semakin panjang.
Sementara itu, sayap politik Hamas mengatakan belum menerima proposal gencatan senjata baru atau proposal perdamaian dari mediator Qatar dan Mesir. Padahal, Presiden AS Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir terus memprediksi gencatan senjata akan segera terjadi.
Sayap politik Hamas mengkonfirmasi bahwa negosiasi masih terhenti sejak Israel mencoba membunuh pejabat tinggi Hamas di Qatar pada 9 September lalu. Mereka saat itu berkumpul untuk meninjau proposal gencatan senjata baru yang diajukan oleh Trump.
"Hamas siap untuk mempelajari proposal apa pun dari saudara mediator dengan sikap positif dan bertanggung jawab, dengan cara menjaga hak-hak nasional rakyat kami," kata mereka.
Menteri Netanyahu Tolak Rencana 21 Poin yang Diusulkan Trump
Kembali ke dalam negeri Israel, para menteri sayap kanan menyatakan menentang rencana 21 poin yang diusulkan Trump dan kesepakatan lain apa pun yang bertujuan mengakhiri serangan sebelum mengalahkan Hamas.
"Pak Perdana Menteri, Anda tidak punya mandat untuk menghentikan perang tanpa kekalahan telak Hamas," kata Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dalam unggahannya di X.
Hal yang sama juga diungkapkan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Ia bahkan menentang pengakuan negara Palestina.
"Tidak akan pernah menyetujui negara Palestina -- meskipun sulit, meskipun ada harga yang harus dibayar, dan meski membutuhkan waktu," kata Smotrich.
