Istri Aktivis HAM Golfrid Harap Penyebab Suaminya Wafat Terungkap

Kematian Aktivis HAM yang juga merupakan Advokat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau WALHI Sumatera Utara, Golfrid Siregar, dianggap tidak wajar. Sebab, ditemukan sejumlah kejanggalan seperti adanya luka pukulan benda tumpul di kepala dan sepeda motor Golfrid yang tak mengalami kerusakan.
Kejanggalan tersebut membuat dugaan Golfrid wafat karena kecelakaan menjadi tak pasti. Untuk memastikan dan atas izin keluarga, Golfrid yang tengah disemayamkan di rumah duka akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk diautopsi.
Proses autopsi berjalan selama tiga jam dari pukul 19,00 hingga 22.00 WIB pada Senin (7/10). Selama proses autopsi, sang istri, Resmi Baringbing, ikut mengantar jenazah suaminya itu ke RS Bhayangkara.
Raut wajah Resmi Baringbing tampak kuyu. Wanita berusia 31 tahun itu tampak sabar menunggui jenazah pria yang membuatnya kini dikarunia seorang anak perempuan berusia dua tahun.
Dirinya tak menyangka Golfrid bisa secepat ini meninggalkannya bersama anak perempuannya itu. Sebab, kata Resmi, Goldfrid tak pernah terlihat terlibat masalah dan mengeluh mengenai kondisinya.
"Dia jarang curhat," ujarnya, saat ditemui di RS Bhayangkara, Medan, Senin (8/10).
Resmi tak banyak berkomentar saat ditanyai awak media terkait sosok suaminya. Namun, atas adanya sejumlah kejanggalan yang terjadi, ia meminta pihak kepolisian dapat mengungkap penyebab di balik wafatnya sang suami.
"Saya hanya berharap cepat, masalah ini (dapat) terungkap,'' kata Resmi.
Proses autopsi selesai dilakukan pada pukul 22.00 WIB. Jenazah Golfrid kembali disemayamkan di rumah duka di Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungin, Sumbar. Rencananya, Golfrid akan dimakamkan Selasa (8/10) di kampung halamannya itu.
Terkiat hasil autopsi, pihak medis maupun kepolisian belum mengungkapkan ke publik.
Sebelumnya Golfrid ditemukan tidak sadarkan diri di Fly Over Jalan Jamin Ginting, Kecamatan Medan Baru, pada Kamis (3/10), dia meninggal dunia Minggu (6/10), setelah tiga hari kritis di RSUD Adam Malik.
Kecurigaan tewasnya Golfrid mencuat karena sepeda motor yang dikendarainya tidak mengalami kerusakan seperti halnya orang kecelakaan, justru Golfrid mengalami bekas luka dibagian mata dan luka pukulan benda tumpul di kepalanya.
"Hancur tempurung kepala dan itu yang dioperasi sepertinya kemarin oleh dokter untuk mengangkat tempurung kepala yang rusak. Habis itu dia kritis sampai akhirnya dia meninggal dunia," ujar Direktur Walhi Sumut Dana Tarigan, Senin (7/10).
Sementara itu, Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja, mengatakan pihaknya akan segera menyelidiki kasus ini.
"Pihak keluarga sudah melaporkan hal itu dan dibuat laporan model A. Sementara itu, kita masih berkoordinasi dengan keluarga apakah pihak keluarga mau diautopsi korban tersebut," terang Tatan.
Untuk dugaan meninggalnya, Golfrid karena dianiaya atau murni kecelakaan, hingga kini institusinya masih belum bisa memastikanya. Namun dari pemeriksaan awal beberapa barang korban hilang.
"Hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi, itu laptop, dompet sama handphone dia hilang," tutup Tatan.
