Isu Gunung Batur Ditutup Bikin Jumlah Pendaki Merosot 50 Persen

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan dari puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (10/6). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan dari puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (10/6). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Di tengah wacana penutupan akses wisata dan pendakian seluruh gunung oleh Gubernur Bali Wayan Koster ternyata sudah memberikan dampak buruk bagi pedagang dan pemandu wisata.

Pemandu wisata bernama I Gede Edy Arnawa Wirajaya mengatakan jumlah pendaki sudah merosot 50 persen untuk di Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Padahal, rata-rata jumlah pendaki Gunung Batur mencapai 400-500 orang per hari. Tarif pendakian sekitar Rp 250-400 ribu per orang.

"Kalau di IG ada 50 persen (jumlah penurunan pemesanan pendakian oleh wisatawan). Soalnya tahun lalu pada Juni-Desember banyak yang booking, sekarang sama sekali (sepi), sedikit banget (pemesanan mendaki Gunung Batur)," kata Edy saat dihubungi, Selasa (12/6).

Sejumlah WNA berada di puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (10/6). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Edy sendiri menolak rencana penutupan aktivitas wisata dan pendakian di Gunung Batur. Penutupan ini akan berdampak secara langsung terhadap kunjungan wisatawan mancanegara dan tingkat hunian hotel serta restoran di Kintamani.

Pendakian Gunung Batur merupakan destinasi wisata utama di Kintamani. Selain itu, sekitar 400-500 pekerja wisata terancam kehilangan pekerjaan.

"Terkait penutupan itu kami enggak setuju karena akan ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan di sini. Kalau sampai ditutup ke Kintamani bakal sepi untuk bule. Soalnya Batur adalah tujuan utama kalau orang-orang bule ke Kintamani," katanya.

Sejumlah WNA berada di puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (10/6). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Koster menutup aktivitas gunung karena banyaknya warga negara asing (WNA) yang melecehkan kesucian atau simbol keagamaan di gunung.

Edy menilai membatasi lebih masuk akal dibandingkan menutup aktivitas pendakian. Apalagi, pemerintah daerah mengizinkan sejumlah pura sebagai objek wisata.

"Misalnya kalau di gunung ada tempat suci jadi jangan dibolehkan ke tempat sucinya saja. Dan di Bali kan banyak juga pura yang dijadikan objek wisata kalau gunung ditutup harusnya pura di Bali ditutup juga," katanya.

Sejumlah WNA berada di puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (10/6). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Edy juga menilai akan ada pro dan kontra mengenai rencana pengangkatan pemandu wisata menjadi tenaga kontrak oleh Koster.

Hal ini disebabkan jumlah penghasilan pemilik hotel dan restoran serta pedagang di Kintamani bakal turun drastis.

Sementara itu, pelaku usaha tidak yakin pemerintah dapat mengaji pemandu sesuai dengan penghasilan per bulan. Rata-rata penghasilan Edy sebagai pemandu wisata Rp 7-10 juta per bulan.

Sejumlah WNA berada di puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (10/6). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Edy biasanya menjadi pemandu untuk wisatawan domestik dan mancanegara. Wisatawan mancanegara biasanya berasal dari Prancis, Jerman, Australia, dan lain sebagainya.

"Kalau masalah penghasilan dengan kontrak kerja sesuai dengan per bulan saya siap tapi kalau dampak ke Kintamani secara umum belum siap, soalnya banyak penginapan," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh pedagang di bawah kaki Gunung Batur berinisial AT (25). Jumlah pendapatannya menurun drastis imbas wacana penutupan Gunung Batur.

"Sekarang sepi semenjak dikabarkan gunung mau tutup, banyak tamu yang nanya boleh atau enggak mendaki lagi apalagi di medsos ramai," katanya kepada Kumparan, Sabtu (10/6).

Sejumlah WNA berada di puncak Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (10/6). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Biasanya AT memperoleh sekitar Rp 200-300 ribu per hari dari penggunaan kamar mandi dari wisatawan mancanegara. Tarif kamar mandi dipatok Rp 5 ribu per orang. AT memperoleh Rp 500 ribu per hari dari pemesanan makanan dan minuman dari wisatawan domestik.

"Sekarang rugi banyak, enggak ada segitu, hari ini aja sepi kali wisatawan lokal lebih banyak bulenya," katanya..

Dia berharap aktivitas pendakian tetap dibuka untuk wisatawan. Komunitas berencana mengumpulkan KTP dan menyerahkan kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk menunjukkan data masyarakat terdampak atas kebijakan ini.

Respons Pemprov Bali

Sementara itu, Wagub Bali Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha mengaku sedang mencari solusi agar pelaku pariwisata tidak terdampak sekaligus nilai kesucian tempat sakral di Gunung tidak ternodai oleh aktivitas pendakian.

"Bagaimana pariwisata berjalan di sisi lain kesakralan keyakinan umat di bali tidak terganggu. Justru kita carikan jalan keluarnya," katanya di DPRD, Selasa (12/6).

Pemandangan Gunung Batur memang terkenal indah. Gunung dengan ketinggian 1717 mdpl ini memiliki jalur pendakian berbatu dan pasir sehingga yang cukup mudah bagi pemula.

Dari puncak, pendaki dapat menikmati matahari terbit yang datang dari balik perbukitan yang berjejer. Di samping perbukitan itu terlihat jelas Gunung Agung, Gunung abang dan Gunung Rinjani bersebelahan.

Pada kaki Gunung Batur juga tampak danau batur, rumah serta kebun para penduduk yang seolah-olah menyatu dengan Gunung Agung.

Pantauan Kumparan, Pada Sabtu (10/6), sebagian besar para pendaki berasal dari luar negeri yang didampingi oleh pemandu wisata.