Isu Kebangkitan PKI dan Tragedi 1965 Didaur Ulang, Upaya Bangkitkan Ketakutan
ยทwaktu baca 3 menit

Tragedi 1965 menjadi salah satu peristiwa kelam di Indonesia. Kejadian penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal pada 30 September 1965 dan pemberontakan PKI hingga kini masih menimbulkan trauma bagi sejumlah korban tragedi tersebut.
Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid menuturkan, kebangkitan PKI masih menjadi isu yang terus diungkit oleh oknum tertentu setiap tahunnya, untuk memunculkan lagi ketakutan pada orang-orang yang trauma dengan kejadian tersebut.
"Survei-survei skala nasional SMRC, Indikator, menunjukkan kelompok masyarakat percaya dengan bangkitnya PKI dalam jumlah yang sangat kecil. Tetapi saat bersamaan jadi melihat politisasi ini atau usaha membangkitkan ketakutan pada komunisme atau PKI terus didaur ulang," ucap Usman dalam paparan survei SMRC "Sikap Publik pada Pancasila dan Ancaman Komunis" secara virtual, Jumat (1/10).
"Sehingga ada usaha memelihara narasi ketakutan itu, yang di awal disebutkan narasi banyak dipahami responden yang didominasi narasi Orde Baru, PKI adalah pihak yang satu-satunya bertanggung jawab pengkhianatan pemerintah tahun 1965," lanjut dia.
Meski jumlahnya sedikit, Usman menilai orang-orang yang masih percaya kebangkitan PKI berusaha membangun ketakutan publik hingga memainkan isu ini dikaitkan dengan politik.
"Kenapa tiap tahun, meskipun jumlahnya kecil, tetap isu berkembang dan diyakini? Tampaknya isu komunisme ini dipakai untuk merebut kekuasaan, menghancurkan lawan publik, membangun ketakutan, mengontrol kebenaran versi sejarah Orde Baru, yakni PKI dalang semuanya. Dan membenarkan narasi tunggal Orba atas yang terjadi peristiwa 65 dan menyangkal banyaknya orang yang enggak bersalah jadi korban peristiwa tersebut," jelas aktivis HAM ini.
Empat F
Di kesempatan yang sama, Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan, terdapat empat teori dari isu kebangkitan PKI yang masih dipercayai sejumlah orang. Empat temuan itu yakni faith (keyakinan), fear (ketakutan), food (makanan), dan female (perempuan).
Terkait empat teori itu, Beka mencontohkan ketika isu soal agama yang kerap dimainkan di media sosial yang kemudian menarik perhatian dan memicu emosi seseorang. Sedangkan isu PKI sendiri diyakininya memainkan faktor faith dan fear.
"PKI jelas bertentangan dengan nilai agama, ditambah narasi ancaman kebangkitan. Titik ini menjadi konteks di mana kenapa isu kebangkitan PKI itu menjadi marak setiap tahunnya karena memainkan dua faktor itu," tutur Beka.
Ia sepakat dengan pernyataan Usman yang menyebut isu kebangkitan PKI didaur ulang sehingga setiap tahun akan selalu diungkit.
Namun, Beka menganggap isu ini bukan hanya berdampak pada politik saja, tetapi juga menebalkan stigma, diskriminasi, dan trauma terhadap korban kekerasan tahun 1965.
Jadi isu politik peristiwa 65 sebagai pelanggaran HAM berat tidak selesai. Hanya kencang akhir September, hilang lagi minggu awal Oktober, terus gitu. Sementara korbannya sudah tua, saksi-saksinya sudah banyak meninggal. Bisa di rumah aja, sementara roadmap soal penyelesaian ini kabur.
Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara
