Jakarta Gencarkan Bank Sampah, Kumpulkan 2,5 Ton Sampah per Bulan
·waktu baca 3 menit

Sebagai upaya penanganan sampah di ibu kota, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta memberikan pelatihan kepada pendamping bank sampah di 267 kelurahan. Program ini menjadi strategi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam mewujudkan target satu RW memiliki satu bank sampah aktif.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan, para pendamping akan bekerja secara intensif selama dua bulan untuk membentuk sekaligus mengaktifkan kembali bank-bank sampah di wilayahnya.
"Jika seluruh RW memiliki bank sampah aktif dan warga konsisten memilah sampah dari rumah, maka kita tidak hanya menjaga kebersihan kota, tetapi juga membangun Jakarta yang berkelanjutan," kata Asep.
Ia melanjutkan, cara ini akan memperkuat gerakan pengurangan sampah dari sumbernya sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
Hal tersebut pun telah dibuktikan oleh Bank Sampah Sehati (BSS) di RW 08, Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Setiap bulan, wilayah ini mampu mengumpulkan sampah daur ulang sebanyak 2,5 ton.
"Sudah ada 300 nasabah dari 14 RT (yang berpartisipasi) di Bank Sampah Sehati. Dalam satu bulan, sampah yang terkumpul bisa 2,5 ton. Nanti selanjutnya akan dipilah (sampahnya)," kata Ketua BSS RW 08, Acing Mamim.
Usai dipilah, sampah-sampah yang dapat didaur ulang akan diberikan ke Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) untuk dijadikan barang bernilai jual.
"Alhamdulillah, dengan kegiatan bank sampah yang rutin ini, lingkungan RW 08 semakin bersih dan warganya mempunyai penghasilan tambahan," ucap Acing.
Sementara itu, pendamping BPS RW Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Selatan, Novalia Magdalena, menjelaskan, penimbangan dilakukan seminggu dua kali dengan cara jemput bola ke masing-masing lokasi.
"Untuk kategori sampah beling dihargai Rp300 per kilogram, kardus minimal Rp1.700 per kilogram. Kemudian, untuk sampah plastik Rp800-4.000 per kilogram. Sementara, besi dan tembaga mencapai Rp60.000 rupiah per kilogram," jelas Nova.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Bank Sampah Budhi Luhur, Tutik Sri Susilowati, menekankan, bank sampah bukan sekadar tempat menimbang atau menjual sampah, melainkan juga wadah kebersamaan warga dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan.
“Bank sampah adalah ruang belajar bagi masyarakat untuk menumbuhkan perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan. Karena itu, sosialisasi, pembinaan, dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pengelolaan sampah berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata,” ungkapnya.
Senada dengan Tutik, Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), Wilda Yanti, menegaskan pentingnya peran pendamping dalam memastikan optimalnya pengelolaan bank sampah di setiap wilayah.
Menurutnya, komunikasi yang baik dengan warga serta edukasi berkelanjutan tentang pentingnya memilah sampah dari rumah merupakan kunci utama keberhasilan program ini.
“Dengan semakin banyak bank sampah yang aktif, warga Jakarta dapat berdaya melalui ekonomi hijau berbasis komunitas, sekaligus membantu mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang,” tutup Wilda.
