kumparan
4 Jan 2019 10:41 WIB

Jaksa Saudi Tuntut Hukuman Mati Lima Pembunuh Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi. (Foto: REUTERS)
Para jaksa pada pengadilan di Arab Saudi menuntut hukuman mati terhadap lima dari 11 terdakwa pada kasus pembunuhan Jamal Khashoggi. Kelima orang ini disebut adalah pejabat yang dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS).
ADVERTISEMENT
Diberitakan Reuters, tuntutan itu disampaikan para jaksa dalam pengadilan pembunuhan Khashoggi di Riyadh pada Kamis (3/1). Kelima orang itu disebut terlibat langsung dalam pembunuhan Khashoggi di Konsulat Saudi, Istanbul, pada Oktober tahun lalu.
"Jaksa menuntut hukuman mati kepada lima terdakwa atas keterlibatan langsung mereka dalam pembunuhan," ujar pernyataan jaksa.
Tidak disebutkan nama-nama para terdakwa. Namun ada lima orang pejabat tinggi negara yang terlibat dalam pembunuhan jurnalis pengkritik Saudi ini, dua di antaranya adalah Saud al-Qahtani dan Ahmad al-Assiri, orang dekat MbS.
Sejak November lalu Qahtani telah dikenakan larangan bepergian. Hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya.
Saud al-Qahtani. (Foto: Twitter/@saudq1978)
Selain mengajukan tuntutan, jaksa juga menyatakan masih menunggu bukti-bukti pembunuhan Khashoggi yang belum diserahkan oleh penyelidik di Turki. Pemerintah Turki sebelumnya mengaku memiliki rekaman suara pembunuhan Khashoggi di dalam Konsulat.
ADVERTISEMENT
Kasus ini menjadi perhatian dunia karena Khashoggi adalah kolumnis yang terkenal dengan kritiknya kepada pemerintah Saudi melalui Washington Post. Publik juga dibuat bingung oleh pernyataan Saudi yang berubah-ubah.
Dalam pernyataan terakhirnya, Saudi mengakui jurnalis berusia 59 tahun itu dibunuh secara terencana oleh 15 orang yang sengaja dikirim ke Istanbul. Jasad Khashoggi dimutilasi dan belum ditemukan hingga kini.
Penyidik Saudi juga telah menyatakan MbS tidak terlibat dalam kasus ini. Namun masyarakat internasional, terutama Kongres Amerika Serikat, sangsi atas pengakuan tersebut.
Pengadilan Khashoggi dilangsungkan secara tertutup bagi publik dan media. Tidak diketahui kapan pengadilan berikutnya akan dilakukan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan