Jalan Aktivis Melki Sedek Huang, Ketua BEM UI yang Vokal Kritik Pemerintah
·waktu baca 4 menit

Melki Sedek Huang bukan mahasiswa sembarangan. Ia adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia ( BEM UI) 2023-2024. Pria berusia 23 tahun itu pula yang mengorganisir meme tikus DPR yang viral beberapa waktu lalu.
Kepada kumparan, Melki bercerita bahwa meme tersebut adalah simbol penolakan terhadap sejumlah kebijakan yang dibuat pemerintah. Keberanian Melki mengkritik pemerintah pun rupanya dipupuk sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Sejak masuk kuliah sudah suka [sosial-politik]. Pas SMA paling baca-baca buku. Rupanya buku yang dibaca berperan sama hal-hal yang disuka di kuliah," kata Melki saat berbincang melalui sambungan telepon, Selasa (29/8).
Meraup Kemenangan 75 Persen Suara di UI
Sebelum menjadi ketua BEM UI, Melki lebih dulu aktif di BEM FH UI. Melki menapaki karier aktivisnya dengan menjadi staf BEM FH UI di departemen kajian dan aksi propaganda.
Di departemen tersebut, Melki berkutat dengan sejumlah kajian dan isu. Misalnya, kata dia, Reformasi Dikorupsi, Omnibus Law Cipta Kerja, RKUHP, serta revisi UU ITE.
"Jadi kita mengurus hal itu di BEM FH UI selama 2 tahun itu. Salah satu concern BEM FH UI yang paling utama itu kekerasan seksual dalam kampus. Itu juga soal Permendikbud PPKS," sambungnya.
Setelah menjabat dua tahun di BEM FH UI, Melki pun memberanikan diri maju sebagai calon ketua BEM UI. Ia akhirnya mencalonkan diri bersama Dipa, mahassiwa FMIPA, pada 2022 lalu.
"Dari proses pemilihan pun kompleks juga, kita mengalami sekali banyak hal-hal yang susah ditebak dan sulit diprediksi. Hal-hal yang kemudian dalam tanda kutip juga bisa membahayakan. Apalagi saya non-muslim. Bertarung di tempat-tempat tentunya tidak menguntungkan bagi non-muslim, sehingga pertarungannya kita menangkan dengan gagasan-gagasan gitu. Menang 75 persen kemarin. Jadi kemarin ada 2 pasang, saya dan lawan," tuturnya.
Menurut Melki, ia punya enam misi untuk BEM UI. Fokusnya, kata dia, adalah membuat BEM UI yang ramah dan mewadahi sivitas akademika.
"Jadi kalau misalnya mau aktif di isu sosial, BEM UI bisa mewadahi. Atau teman-teman yang mau volunteer kita juga bisa wadahi. Teman-teman bikin start up atau bikin prospek karier di masa depan yang baik, berolahraga, berkesenian, BEM UI bisa mewadahi. Jadi BEM UI bisa jadi paket lengkap buat teman-teman," jelas Melki.
Ancaman Membuat Tak Gentar
Selama menjabat sebagai ketua BEM UI, ancaman dan intimidasi kerap jadi makanan sehari-hari. Nyawa pun jadi taruhan dari setiap kritik yang dilayangkan Melki.
"Kalau ancaman itu banyak, diserang secara digital. Bahkan ada yang mengancam untuk mencari tempat tinggal kita semua, menghilangkan kami, mematikan, dan sebagainya. Ancaman sehari-hari yang kita dapatkan, teror dan sebagainya itu biasa," tutur Melki.
Menurut Melki, sudah sewajarnya mahasiswa bersikap kritis. Sikap itu pula yang membuatnya berani mengorganisir BEM UI untuk membuat meme Ketua DPR Puan Maharani berbadan tikus.
Kalau memang mengkritik, saya rasa enggak perlu ada batasan ini enggak boleh, ini enggak boleh. Ya kita melakukannya dengan natural aja."
Melki Sedek Huang
Melki lalu bercerita bahwa PDIP sempat memanggilnya untuk menjerlaskan meme tersebut. Orang PDIP, kata dia, menyebut Puan merasa terhina dengan meme tersebut.
"Karena kami tidak merasa menghina, seharusnya PDIP yang datang ke UI, masa UI ke PDIP, karena PDIP yang butuh, tapi akhirnya PDIP tak mau datang ke UI," jelasnya.
Sikap vokal Melki pun bukan tanpa pro dan kontra. Menurutnya, banyak yang menilai bahwa tugas mahasiswa seharusnya kuliah, bukan ngurusin politik. Apalagi BEM UI kini mengundang bacapres untuk debat secara terbuka di kampus.
"Dasar ukuran kompetensi dan gagasan adalah seberapa mampu dia menyuarakan dan hadir pro kontra di tengah publik. Kampus itu jadi tempat yang paling baik untuk berbicara soal gagasan dan argumentasi. Jadi seluruh sivitas akademika, mahasiswa hingga pengajar harus bisa bersuara banyak soal pemilu," tegasnya.
Melki pun mengungkap alasan mengundang para bacapres untuk mengutarakan gagasannya di UI pada 14 September mendatang. Menurutnya, ini juga jadi peran penting untuk terus mengkritik dan mengawal sirkulasi kepemimpinan untuk pemilu 2024 mendatang.
"Kita pun membuat kajian juga, judulnya What's Next After Jokowi? kajian ini berisikan aspek-aspek kebangsaan, misalnya, dalam poin kesehatan, dalam poin pendidikan, pertahanan dan reformasi hukum, kita tanya Indonesia ini mau jadi seperti apa. Ini langkah konkret UI untuk mengawal Pemilu 2024," ungkapnya.
Apakah Gerakan Mahasiswa Masih Relevan?
Ketika dilempar soal pertanyaan apakah gerakan mahasiswa masih relevan atau tidak, Melki pun menjawab tegas. Bahwa, kata dia, gerakan tersebut perlu dan harus tetap berjalan.
Gerakan mahasiswa saya rasa belum mati. Ini baru mulai di tahun 2023. Saya yakin tahun selanjutnya akan lebih besar dan ini akan menjadi kekuatan yang lebih besar lagi untuk memperingatkan kekuasaan."
Melki Sedek Huang
Menurut Melki, perubahan pada dasarnya cuma bisa diambil oleh orang-orang yang menjabat dan digaji seperti anggota DPR, presiden, hingga menteri. Meski begitu, mahasiswa tetap punya andil terus memastikan mereka bekerja untuk rakyat.
"Tujuan gerakan mahasiswa itu melanjutkan kesadaran dan menekan orang yang mampu menghadirkan perubahan yang kita inginkan. Itu orientasi gerakan mahasiswa di UI," pungkasnya.
