Jalan Aktivisme Glenn Fredly

Udara lembab di selasar Lapas Batu, Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah menyambut Glenn Fredly di penjara maximum security itu. Kala itu 28 November 2016, Glenn bertandang untuk bertemu Johan Teterissa, seorang narapidana politik. Ia berjanji akan memperjuangkan kebebasannya.
Johan, yang kerap dipanggil Yoyo, meringkuk di sel itu karena mengibarkan bendera separatis Republik Maluku Selatan (RMS) di tengah gelar Tarian Cakalele di Lapangan Merdeka, Ambon, saat peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) pada 29 Juni 2007. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berada di podium kala bendera itu berkibar.
Bagi Glenn, Yoyo tak layak dihukum. Bentang bendera di tengah tarian itu merupakan bentuk kebebasan berekspresi. Hak itu laik diperjuangkan. Amnesty Internasional dan LBH Jakarta duduk di barisan yang sama dengannya.
“Mereka (Yoyo dan rekan-rekannya) juga mengalami kekerasan selama penangkapan itu dan penyiksaan sehingga akhirnya divonis bersalah, makar,” ucap Direktur Eksekutif Amnesty International, Usman Hamid ketika berbincang dengan kumparan pada Kamis (09/04).
Usman menyebutkan Glenn selalu menyampaikan usulan pembebasan Yoyo saat bertemu Presiden Joko Widodo. Paling tidak, kata dia, usul pembebasan Yoyo ini disampaikan Glenn sejak 2015.
“Itu dari yang terakhir saya kira sampai 2017, terutama ketika Jokowi akhirnya membebaskan tahanan politik Papua dengan grasi,” jelas Usman. .
Jejak upaya pembebasan Yoyo ini juga terekam ketika Glenn mengirimkan opini ke Jakarta Post berjudul Amnesty For Prisoners of Conscience is Urgent pada 17 September 2018. Pesannya jelas, jika Jokowi ingin mendapat kepercayaan maka pembebasan aktivis dari belahan timur Indonesia harus dilakukan.
Satu persatu pembebasan dilakukan, Yoyo baru menghirup udara bebas itu pada 25 Desember 2018, tepat saat perayaan Natal. Tetapi tak lama menghirup udara bebas, bekas guru SD itu lantas meninggal pada 2019. Tahun lalu, kata Usman, Johan Teterissa meninggal.
Pembebasan narapidana politik dan berekspresi hanya satu dari sepenggal aktivisme Glenn. Keterlibatannya dalam dunia penegakan HAM tercatat baik dalam ingatan aktivis.
Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Yati Adriano mengungkap, Glenn cukup lama malang melintang dalam pembelaan HAM, dari mengisi sekolah HAM KontraS (SeHAMA), ikut mendorong penuntasan kasus pembunuhan Munir, hingga menemui korban dan keluarga pelanggaran HAM dan kelompok minoritas, termasuk jemaat GKI Yasmin.
“Kami memberi penghargaan dan penghormatan yang tinggi pada GF. Keberpihakan dan kesetiaannya pada hak asasi manusia adalah rahmat (kasih tulus) yang diberikannya untuk kemanusiaan,” ucap Yati.
Bukan hanya soal penegakan HAM, Glenn juga aktif dalam berbagai isu antikorupsi. Mantan Aktivis ICW, Illian Deta Arta Sari, mengungkap keterlibatan penyanyi kelahiran Jakarta, 30 September 1975 ini dalam berbagai aksi bela KPK. Baik ketika gelar konser dalam rangka cicak versus buaya hingga pendidikan antikorupsi.
“Dia bareng sama ICW dan organisasi lain bersama di kelompok VOTE / Voice of The East menyuarakan masalah di Indonesia Timur yang pembangunannya timpang dan ada banyak masalah sosial salah satunya karena korupsi,” jelasnya.
Tak hanya itu, dalam tiap gelar konser pun Glenn tak pernah absen memberikan orasi. Baik itu soal penegakan HAM, pluralisme, hingga antikorupsi. Tekadnya turut membawa agenda gerakan masyarakat sipil sudah mendarah daging dalam rutinitas selaku artis.
Glenn menghembuskan nafas terakhir karena sakit Meningitis pada Rabu (8/4). Ia menginjak usia 44 tahun.
Presiden Joko Widodo turut berucap duka melalui akun instagramnya. “Glenn Fredly telah berpulang, tetapi karyanya akan tetap abadi dan kita nikmati,” tulisnya.
Dan semoga saja tak hanya karyanya yang terus dinikmati. Tetapi juga perjuangannya, soal penegakan HAM, penguatan antikorupsi, hingga keberagaman.
