Jalan Panjang RI Daftarkan Kebaya via Nominasi Tunggal ke UNESCO
·waktu baca 2 menit

Indonesia memilih tak ikut serta bersama 4 negara lainnya dalam pendaftaran kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Alih-alih bergabung dalam joint nomination, pemerintah memilih untuk mengusulkan nominasi tunggal.
Sebelum DPR memutuskan hal ini, pemerintah sempat merespons baik undangan dari Malaysia terkait pendaftaran kebaya bersama-sama.
Ketua Gerakan Perempuan Berkebaya Indonesia Rahmi Hidayati menjelaskan proses pengajuan kebaya untuk nominasi tunggal sebenarnya sudah diusahakan tahun 2021 lalu. Saat niat pendaftaran digaungkan, Malaysia, Singapura, dan Brunei ternyata sudah siap mendaftar ke UNESCO.
"Kan, masih nih pada ngotot Indonesia maju single. Sempat heboh juga soal ini, ya, keinginan single ini. Tapi ternyata mereka (Malaysia dkk) udah daftarin duluan," ujar Rahmi kepada kumparan, Jumat (25/11).
Menurutnya, Indonesia belum bisa mendaftarkan nominasi single saat ini. Sebab, nominasi itu hanya boleh diajukan untuk satu jenis budaya dalam waktu dua tahun. Sementara tahun lalu Indonesia sudah mengajukan jamu yang kini tengah diproses.
Tak hanya kebaya, Rahmi menjelaskan sejumlah budaya Indonesia lainnya juga antre didaftarkan sebagai warisan dunia tak benda. Misalnya, Reog Ponorogo yang sudah dipersiapkan sejak sekitar tahun 2011.
"Tiba-tiba sekarang muncul kebaya. Apakah mereka (Reog, dll) mau melipir dulu, yaudah, deh, kebaya dulu yang masuk. Itu pun tahun depan, loh, bukan tahun ini. Karena tahun sekarang kita sedang berproses jamu. Kalau misalnya tidak bisa, reog kita ini kan (proses) dulu, ya kita 2 tahun berikutnya atau 2 tahun berikutnya lagi baru bisa mengajukan kebaya ke UNESCO," kata Rahmi.
Proses pengajuan nominasi tunggal ini pun cukup panjang. Pemerintah daerah awalnya harus membuat pernyataan bahwa kebaya tersebut memang ada di daerah itu. Usai dievaluasi tim ahli warisan budaya di Indonesia, kebaya akan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia, lalu didaftarkan ke UNESCO.
Hingga saat ini, kata Rahmi, kebaya yang bisa didaftarkan ke UNESCO baru Kebaya Encim (DKI Jakarta) dan Kebaya Labuh (Riau). Sementara jenis kebaya lainnya, termasuk dari Jawa, belum ada yang ditetapkan jadi warisan budaya tak benda Indonesia.
Mereka ada tim khusus untuk verifikasi, meneliti hasil kajian-kajian yang dimasukkan ke dokumen dosier ini. Setelah final, dikirim ke UNESCO, UNESCO melakukan kajian, setelah itu keluar pernyataan apakah warisan budaya tak benda dari Indonesia atau enggak, atau dari beberapa negara lain. Bisa 2 tahun prosesnya. Kalau mau single kita harus mempersiapkan itu."
-Rahmi Hidayati-
