Jalan Poros Samarinda-Bontang yang Memprihatinkan
·waktu baca 4 menit

Nama harum kota Bontang, Kalimantan Timur, sudah menyeruak sejak puluhan tahun lalu. Kota yang terletak sekitar 140 KM dari Kota Samarinda, ibukota Kalimantan Timur itu merupakan kota industri.
Beberapa industri strategis berada di kota ini. Sayangnya, infrastruktur jalan menuju Bontang sangat tidak terbayangkan sebelumnya.
Saya mendengar nama Bontang sejak saya SD 30-an tahun lalu. Nama Bontang sama harumnya dengan kota-kota industri lain, seperti Bangka yang penghasil timah, Buton yang penghasil aspal, Balikpapan dan Dumai yang penghasil minyak, dan sebagainya.
Nama-nama kota industri itu menjadi bahan pelajaran di SD dan siswa harus menghafalnya. Meski hanya tahu nama, namun itu membuat bangga sebagai warga Indonesia.
Meski mendengar namanya sejak lama, saya baru menginjakkan kaki di Bontang, Senin (6/8/2022) lalu. Itu pun atas undangan Direktur Utama PT Pupuk Kaltim Rachmad Pribadi.
Di Bontang 3 hari. Rachmad mengajak saya dan beberapa pemimpin redaksi media nasional melihat dari dekat bagaimana pabrik pupuk urea terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga di Asia Tenggara itu beroperasi.
Setelah tiba di Bandara Tumenggung Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, sekitar pukul 14.00 WITA, saya melanjutkan perjalanan menuju Bontang dengan menumpang mobil.
Begitu keluar dari gerbang bandara, mobil langsung belok kiri menjejak Jalan Poros Samarinda-Bontang. Tak begitu jauh dari gerbang bandara, jalan becek dan berlumpur langsung menyambut.
Sebelumnya Rachmad memang sudah memberikan sinyal buruk soal satu-satunya akses darat menuju Bontang ini. “Mohon maaf ya, perjalanan agak lama, karena jalannya kurang bagus. Kira-kira perlu 2,5-3 jam perjalanan,” kata Rachmad. Apa yang disampaikan Rachmad memang terbukti. Bahkan, faktanya lebih buruk lagi.
Sudah pasti jalan raya Samarinda-Bontang ini pernah bagus dan mulus. Namun, sudah bertahun-tahun ini terlihat tak terurus. Memang saat ini, ada pekerjaan perbaikan jalan yang dilakukan Kementerian PUPR, namun sepertinya kurang masif.
Padahal, jalan ini merupakan akses menuju kota industri strategis dan prestisius. Di Bontang, selain PT Pupuk Kaltim, ada perusahaan gas alam, PT Badak NGL. Juga ada beberapa perusahaan petrokimia, seperti PT Kaltim Methanol Industri, PT Kaltim Nitrat Indonesia, dan PT Kaltim Parna Industri.
Jarak dari Bandara Samarinda menuju Kota Bontang sekitar 100 KM. Kontur jalan naik turun. Jalan ini merupakan jalan nasional. Selain jalan yang penuh lubang, jalan ini juga berlumpur. Aspalnya hilang tersapu aliran air. Di sepanjang jalan itu, lebih banyak tidak ada selokan di pinggir jalan yang bisa menampung air yang datang dari bukit-bukit ketika hujan.
Kondisi jalan seperti itu tidak memungkinkan pengendara memacu kendaraannya dengan cepat. Pengendara harus lebih banyak mengerem untuk menyapa lubang-lubang di tengah jalan.
Belum lagi, banyak sekali truk-truk besar yang melalui jalan ini. Jarak 100 KM ditempuh dalam waktu 3 jam. Sekitar pukul 17.30 WITA, saya tiba di Bontang setelah di tengah perjalanan berhenti di rumah makan untuk makan siang.
Kondisi jalan yang seperti ini, membuat kecelakaan lalu lintas sering terjadi. Saat saya melintas, ada sebuah truk yang menabrak tebing dan terhenti dengan kondisi melintang di tengah jalan, yang jelas mengganggu lalu lintas.
Lamanya perjalanan ditambah juga dengan sebab lain: antrean truk-truk di SPBU. Di sepanjang perjalanan dari bandara menuju Bontang, ada 3 SPBU. Dan ketiganya, ada barisan-barisan truk yang antre memanjang di pinggir jalan.
Pasokan solar di SPBU di sepanjang jalan ini kurang lancar. Para pengemudi truk bisa memarkirkan kendaraannya hingga berjam-jam, bahkan lebih dari 24 jam untuk antre mendapatkan solar. Sebab, solar baru datang pada keesokan harinya.
Tentu ini sebuah ironi. Di jalan akses menuju kota industri yang terdapat pabrik-pabrik yang menghasilkan barang-barang kebutuhan penting, infrastruktur jalannya tidak tidak memadai.
Seorang penyair terkenal, Joko Pinurbo, yang tiba di Bontang sehari sebelumnya mengatakan, “Jalan ini penuh dengan penyiksaan.” Joko Pinurbo yang datang ke Bontang bersama sejumlah seniman merasakan bagaimana teman-temannya tersiksa karena menahan kencing akibat buruknya infrastruktur ini.
Rabu (7/8/2022) sekitar pukul 04.30 WITA, saya kembali menyusuri jalan raya yang malang ini menuju Bandara Samarinda untuk kembali ke Jakarta. Berbeda dengan saat berangkat, saya dan beberapa pemred naik bus besar PT Pupuk Kaltim. Bus ini sangat bagus, dengan tempat duduk yang luks, meski bus sudah berumur 7 tahun. Dulu bus ini dibeli dan didesain untuk menyambut Presiden Jokowi yang saat itu meresmikan Pabrik 5 PT Pupuk Kaltim. Namun, Presiden Jokowi batal menggunakannya, karena heli yang ditumpanginya langsung mendarat di pelabuhan PT Pupuk Kaltim.
Dengan bus super executive ini, diharapkan saya dan para pemred lebih nyaman dari guncangan jalan. Namun, tentu bukan ini solusi yang diharapkan untuk memberi kenyamanan bagi semua pengguna jalan. Perbaikan menyeluruh jalan ini tentu sangat diharapkan. Sempat ada wacana pembangunan tol Samarinda-Bontang, namun sepertinya belum dimulai diwujudkan.
Semoga dalam waktu tidak terlalu lama, saya kembali bisa menjejakkan kaki ke Bontang lagi dengan menempuh perjalanan Bandara Samarinda-Bontang hanya 1,5 jam.
