Jalur yang Dipotong Simpang Susun Semanggi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menguji coba Simpang Susun Semanggi pada Jumat (28/7) sore. Jembatan layang melengkung dengan panjang total 1,6 kilometer akan membuat pengguna jalan dari arah Tomang menuju Blok M dan dari Cawang menuju Thamrin tidak perlu memutar jauh lagi.
Sebelum adanya Simpang Susun Semanggi, kendaraan dari arah Tomang menuju Blok M harus memutar cukup jauh. Pengguna jalan harus melalui kolong Semanggi kemudian memutar di Bundara HI. Sebelum sampai Blok M, kendaraan juga harus melintasi Jalan Sudirman.
Situasi yang sama juga dialami kendaraan dari Cawang menuju Thamrin. Mereka harus melewati kolong Semanggi dan memutar di Bundaran Senayan. Kendaraan juga masih harus melintasi Jalan Sudirman sebelum memasuki kawasan Thamrin.
Setelah jembatan melengkung ini bisa dilalui pengguna jalan, kendaraan dari Tomang ke Blok M dan dari Cawang menuju Thamrin, cukup naik ke Simpang Susun Semanggi.
Jembatan dibangun sejak Juni 2016 ini tidak menggunakan APBD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pembangunan yang dikerjakan PT Wijaya Karya, menggunakan dana hibah dari pengembang PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan dari perusahaan asal Jepang, Mori Building Company. Perusahaan tersebut wajib memberikan kompensasi atas kelebihan koefisien luas bangunan (KLB).

Sebelum diuji coba untuk publik, jembatan ini sudah dilintasi truk seberat 46,6 ton. Nantinya, jembatan ini diharapkan bisa mengurangi kemacetan di Jakarta hingga 30 persen.
Selain untuk mengurangi kemacetan di Jakarta, Simpang Susun Semanggi juga direncanakan menjadi landmark. Untuk itu, dipasang lampu LED di sepanjang sisi bawah jembatan sehingga pengguna jalan yang melintasi kolongnya pada malam hari akan melihat pancaran cahaya berwarna-warni.

