Jamaah Tabligh Bantu Telusuri WNI Peserta Tablig Akbar di Malaysia

Tablig akbar di Masjid Sri Petaling, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 28 Februari - 3 Maret lalu menjadi salah satu klaster penyebaran corona di Malaysia. Sekitar 600 WNI dikabarkan ikut dalam kegiatan tablig akbar yang diikuti oleh sekitar 10 - 16 ribu jemaah dari berbagai negara tersebut.
Pemerintah Indonesia kini tengah menyisir data jemaah Indonesia yang ikut dalam tablig akbar untuk menelusuri potensi penyebaran corona dari klaster tersebut. Terkait itu, pengurus Jamaah Tabligh di Indonesia yang bermarkas di Kebon Jeruk, Jakarta, menyatakan akan ikut menyisir data-data para jemaah Indonesia yang mungkin terpapar virus corona.
Pengurus Tim Tasykil Jamaah Tabligh, Dahlan Siregar, mengatakan pihaknya sampai saat ini belum mendapatkan informasi ada tidaknya jemaah yang terpapar.
“Sudah (ditelusuri). Kita tetap mencari informasi yang valid. Yang kita tahu begitu, belum ada yang pasti menerangkan jamaah tabligh ini terkena virus ini (corona),” ungkap Dahlan kepada kumparan, Selasa (17/3).
“Tapi sampai sekarang ini, itu kan dari polres datang, dari Dinkes datang juga menanyai kita. Cuma sampai hari ini kita belum ada yang valid, artinya (siapa) orang jemaah tablig itu yang kena virus itu,” tuturnya lagi.
Dahlan menjelaskan, berdasarkan data pengurus Jamaah Tabligh, jemaah Indonesia yang ikut dalam tablig akbar di Malaysia berjumlah sekitar 600 WNI. 600 WNI itu di antaranya berasal dari Medan, Jawa, Kepulauan Riau, dan Kalimantan.
“Lebih kurang ada 600-an. Itu datanya menurut yang saya tahu sudah diminta sama aparatlah, penegak hukum, data-datanya udah kita kasih semua. 600 itu seluruh Indonesia, ada berangkat dari Medan, Jawa, Kepulauan Riau, Kalimantan, itu terdeteksi (terdata) semua di sana,” ungkapnya.
Dahlan berharap pemerintah dan aparat setempat bisa memberikan data kepada pihaknya agar dapat segera ditelusuri. Dengan demikian, pihaknya juga dapat mengantisipasi penularan virus corona di kalangan Jamaah Tabligh di Indonesia.
“Tentunya kalau ada pasti pemerintah, baik di daerah ataupun di Jakarta kan memberikan (data) betul- betul. Ini kan data orang, otomatis kita bisa mengkovernyalah. Bahasanya kan untuk nengantisipasi berikutnya, minimal bagaimana menjaga supaya jangan kena yang lain," pungkasnya.
Malaysia mengumumkan sejumlah pasien positif corona di negeranya terkait dengan kegiatan keagamaan yang diikuti jemaah dalam jumlah besar itu. Sejumlah kasus positif di Brunei dan Singapura juga terkait kegiatan tersebut.
