Japanese First, Gerakan Populis Kanan Serupa MAGA Makin Populer di Jepang
·waktu baca 3 menit

Gerakan populis, yang dibawa kelompok sayap kanan, makin populer di Jepang. Secara terang-terangan gerakan ini lantang menolak elitisme, globalisme, dan imigrasi.
Semakin besarnya gerakan populis kanan terlihat pada pemilu majelis tinggi yang digelar akhir pekan lalu. Koalisi pemerintahan pimpinan Perdana Menteri Shigeru Ishiba kehilangan mayoritas.
Simbol populisme kanan pada pemilu tersebut, Partai Sanseito, malah mencuri perhatian. Baru dibentuk lima tahun suara mereka meroket.
Pemilu kali ini Partai Sanseito sukses mendapat 15 kursi majelis tinggi, melonjak jauh dari periode sebelumnya yang cuma dua kursi.
Partai Sanseito sepanjang kampanye sampai pemilu mengusung slogan Japanese First.
Baik slogan mau pun agenda dari Sanseito mengutip langsung dari gerakan kanan seperti ‘Make America Great Again’ atau MAGA dari Donald Trump, Partai AfD Jerman, sampai Partai Reformasi d Inggris bentukan Nigel Farage.
Sama seperti gerakan-gerakan populis di Barat, Partai Sanseito kerap mengkampanyekan pembatasan imigrasi diikuti aturan ketat bagi imigran serta modal asing.
Mereka juga secara lantang menolak ide globalisme dan mendukung kebijakan gender radikal. Tak sampai di situ saja, Partai Sanseito mendorong dekarbonisasi, penolakan vaksin sampai pertanian bebas pestisida.
Dalam berbagai kesempatan Sanseito menyebut, masuknya imigran asing merupakan pangkal berbagai masalah, kejahatan, naiknya harga properti sampai perilaku berkendara berbahaya.
"Tidak masalah jika mereka berkunjung sebagai turis, tetapi jika Anda menerima semakin banyak orang asing, dengan mengatakan mereka adalah tenaga kerja murah, maka upah orang Jepang tidak akan naik," kata pendiri Sanseito, Sohei Kamiya, beberapa saat sebelum pemilu seperti dikutip dari AFP.
“Kami akan membawa kembali kekuasaan kepada rakyat,” sambung Kamiya.
Dukungan warga
Kamiya sendiri merupakan sosok yang dulunya jaih dari dunia politik. Mendirikan partai lewat siaran YouTube, sebelum politikus Kamiya adalah guru dan manajer swalayan.
Sebelum pemilu pada Minggu (20/7) digelar, Kamiya menggemparkan Jepang lewat kampanye Sanseito yang digelar di stasiun Shinagawa. Di sana massa pendukung Sanseito berkumpul dan selebaran bertuliskan “Stop Menghancurkan Jepang” dibagikan ke massa.
Seorang warga Jepang yang mendukung Sanseito memandang partai baru ini memperjuangkan apa yang benar-benar rakyat butuhkan.
“Mereka menuangkan apa yang selama ini saya pikirkan, tetapi tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata selama bertahun-tahun,” ucap seorang pendukung Sanseito yang bekerja sebagai IT.
"Ketika orang asing kuliah, pemerintah Jepang memberikan subsidi, tetapi ketika kami kuliah, semua orang terlilit utang yang sangat besar,” sambung dia.
Akankah Bertahan
Profesor dari Universitas Tsukuba, Hidehiro Yamamoto, mengatakan gerakan populisme di Jepang belum pernah menguat karena adanya partai terbesar, LDP. Selama ini LDP selalu mau bekerja sama dengan seluruh partai.
Namun, dalam pemilu kali ini LDP dan koalisi pemerintahan gagal menang. Bahkan pemimpin koalisi pemerintahan Shigeru Ishiba berencana mundur dari jabatan Perdana Menteri pada akhir bulan depan.
"LDP telah memperhatikan warga kelas menengah ke bawah di perkotaan, petani di pedesaan, dan perusahaan kecil dan menengah," kata Yamamoto.
Terkait masa depan gerakan populisme serta Partai Sanseito, Yamamoto, memprediksi tak akan bertahan lama. Sebab, dalam sejarah politik Jepang partai baru biasanya akan menghadapi fase naik turun.
"Anda tidak bisa terus mendapatkan dukungan hanya dengan suasana hati yang sementara di antara publik," ucap Yamamoto.
