Jaringan Agen Rahasia Korea Utara Aktif lewat Restoran Korea

Tewasnya Kim Jong Nam di Malaysia awal pekan ini memunculkan dugaan adanya operasi aktif agen rahasia Korea Utara di negara-negara Asia Tenggara.
Penelusuran polisi Malaysia dalam kasus tersebut berujung pada penangkapan dua orang perempuan yang diduga menjadi pembunuh kakak satu ayah lain ibu dari pemimpin Korut saat ini, Kim Jong Un.
Kedua perempuan itu adalah Siti Aisyah asal Indonesia dan Doan Thi Huong dari Vietnam. Keduanya mengaku tidak mengira semprotan dan bekapan kain terhadap Jong Nam telah menewaskan pria itu.
Ada empat pria Korut yang diduga terlibat dalam peristiwa ini. Diduga keempat pria adalah agen rahasia Korut.
Sumber intelijen Malaysia yang dikutip situs berita Malaysia, The Star, mengatakan mata-mata Korut telah aktif selama kurang lebih dua puluh tahun di Malaysia, Singapura, dan juga Indonesia.
Sumber The Star mengatakan bahwa ketiga negara itu adalah wilayah operasi agen Reconnaissance General Bureau (RGB), badan intelijen Korut. RGB mengatur operasi militer klandestin negara tersebut. Badan tersebut langsung melaporkan kegiatannya ke Pemimpin Agung, Kim Jong Un.

Operasi tersebut biasa dilakukan di negara-negara tersebut menggunakan agen rahasia berkualifikasi tinggi yang menyamar menjadi teknisi dan konsultan teknis di industri konstruksi, termasuk menjalan bisnis restoran Korea.
"Restoran Korea digunakan sebagai kedok utama menggelar pengumpulan materi intelijen dan kegiatan memata-matai target. Target yang biasa dituju adalah politisi, diplomat, dan figur penting seperti pebisnis berbasis Jepang dan Korea Selatan,” sebut sumber tersebut, seperti dilansir The Star, (17/2).
Sumber tersebut juga menyebut bahwa RGB beroperasi lewat pabrik tekstil yang ada di beberapa kota besar Indonesia, salah satunya Jakarta.
“Satu tempat tertentu yang menyebut diri sebagai restoran Korut di pusat Jakarta juga menjadi bagian pusat RGB di Indonesia,” ucap sumber tersebut.
Salah satu pendanaan jaringan tersebut dilakukan dengan ikut serta dalam perdagangan narkotika ilegal.
Hal ini diketahui saat penyelundupan 125 kilogram heroin berhasil digagalkan otoritas Australia di tahun 2003. Usaha itu dilakukan menggunakan kapal komersil Korea, Pong Su.
Investigasi tersebut kemudian mengkonfirmasi keterlibatan pemerintah Korut dalam bisnis perdagangan gelap narkotika di Asia Tenggara.
Kim Jong Nam, korban yang menjadi sumber semua kegaduhan ini, dipercaya menjadi perpanjangan tangan bisnis narkotika pemerintah Korut.
Baca: Dunia Hitam Kim Jong Nam si Pembangkang
