Jarum, Benang, dan Rezeki yang Tak Putus untuk Mahendar Selama 30 Tahun

Selama tiga dekade, Mahendar (67) mengandalkan jarum, benang, lem, dan tangannya untuk menyambung hidup. Dari pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu, ia perlahan mengumpulkan rupiah demi rupiah, hingga mampu membeli sawah, rumah, dan tanah di kampung halamannya.
“Sawah sama bangun rumah. Itu doang. Kuat beli rumah, beli tanah sedikit juga. Jadi hasil keringat kita sendiri ada sisanya,” tutur Mahendar saat ditemui kumparan di kawasan Bekasi Selatan, Jumat (14/8).
Mahendar mengaku, pencapaian itu didapat bukan dari penghasilan besar, melainkan dari pemasukan harian yang rutin ia kumpulkan. Setiap hari, Mahendar mulai beraktivitas sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB.
Saat ditemui kumparan, Mahendar bercerita sudah mengantongi Rp 150 ribu dari memperbaiki sekitar delapan pasang sepatu.
“Ya hari ini baru dapat Rp 150 ribu. Kurang lebih delapan sepatu,” ujarnya.
Tarif jasanya pun berbeda-beda, tergantung pada jenis pengerjaannya. Untuk sepatu yang dijahit, Mahendar mematok sekitar Rp 30 ribu-Rp35 ribu. Sementara untuk sandal atau flat shoes, tarifnya berkisar Rp 25 ribu-Rp 30 ribu.
Menurutnya, penghasilan tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Lumayan lah, Alhamdulillah untuk makan cukup pokoknya,” ujar Mahendar.
Sebelum mencapai tiga dekade berkutat dengan sepatu, Mahendar mulai mengenal pekerjaan sebagai tukang sol setelah memilih ikut temannya ke Jakarta. Kala itu, ia baru lulus SD dan harus mencari pekerjaan setelah kedua orang tuanya meninggal.
Dia kemudian belajar menjadi tukang sol dari seorang teman yang hingga kini masih menjalani profesi serupa di Kota Batam.
“Memang dulu kalau mau mencari pekerjaan lain kita bisa. Cuma kita nggak mau begitu. Pilihan cepat lah. Sehari-hari ada pemasukan walaupun Rp1.000-Rp2.000,” ungkapnya.
Namun, Mahendar tak serta-merta berjodoh dengan pekerjaannya saat ini. Dia bercerita, dulu sempat menjadi kernet mikrolet trayek Kranji-Cililitan selama sekitar lima bulan pada 1975.
Namun, pekerjaan tersebut dirasanya lebih melelahkan karena harus terus bergerak.
“Kalau di sini kan kita duduk begini. Jadi nggak mondar-mandir,” kata dia.
Sejak itu, Mahendar memilih bertahan sebagai tukang sol. Dia pun memutuskan pindah ke Bekasi pada 1979 dan sekitar satu tahun sebelum pandemi COVID-19 melanda, Mahendar mulai beraktivitas di kawasan Galaxy, Bekasi Selatan.
“Senang. Kalau nggak dilakuin, kerja apa lagi,” terang dia.
Selama puluhan tahun bekerja, Mahendar juga menyaksikan perubahan jenis sepatu sekaligus cara memperbaikinya.
Dulu, sepatu kulit lebih banyak ditemuinya dan sol sepatu kerap dipasang menggunakan paku. Kini, sepatu berbahan karet lebih banyak datang kepadanya sehingga perbaikannya lebih sering menggunakan lem dan jahitan.
“Dulu kan sepatu kulit kebanyakan. Dipaku zaman dulu. Sekarang kan karet kebanyakan, ngejahit sekarang. Banyaknya itu perbedaannya,” jelas Mahendar.
Menurut dia, menjahit juga lebih praktis dibandingkan memaku karena tidak membutuhkan banyak peralatan.
“Enak ngejahit. Daripada maku nggak ribet. Kalau mau memaku, harus ada besi,” katanya.
Perubahan tersebut tidak membuat Mahendar kesulitan mengikuti kebutuhan pelanggan. Dia menyebut, permintaan jasa sol hingga kini masih ada.
“Kelihatannya masih banyak-banyak aja yang minta ngebenerin. Alhamdulillah ada aja,” ujar Mahendar.
Tak seperti usaha musiman yang hanya ramai pada waktu tertentu, Mahendar tetap menerima pelanggan sepanjang tahun. Namun, dia mengaku jumlah pelanggan biasanya meningkat menjelang Lebaran.
“Paling ramainya mau Lebaran. Ramai tuh, puasa ramai,” tutur dia.
Di tengah pemasukan yang tidak selalu sama setiap hari, Mahendar memilih tetap bersyukur. Baginya, selama masih ada pelanggan yang datang, kebutuhan sehari-hari masih bisa terpenuhi.
“Berasa sama aja. Tergantung rezeki kita sehari-hari. Rezeki kita kalau lagi baik, lumayan sehari gitu,” katanya.
Ia bahkan memiliki sejumlah pengalaman berkesan dengan pelanggan. Salah satunya ketika ada pelanggan yang datang dan menanyakan biaya, tetapi kemudian hanya memberikan uang kepadanya.
“Yang paling berkesan kadang-kadang orang yang nanya, ‘Ini berapa duit kalau ngesol segini?’ Kadang-kadang ngasih duitnya aja. Ada yang begitu, alhamdulillah,” tutur Mahendar.
Pengalaman tersebut turut membuatnya percaya bahwa selama mau berusaha, selalu ada rezeki yang datang.
“Yang penting berdoa sama Allah. Alhamdulillah ada yang ngatur, begitu aja udah,” ujarnya.
“Yang penting kita diwajibkan berusaha, kan manusia. Udah usaha, mustahil kita nggak dapat,” sambungnya.
Mahendar kini memiliki empat anak dan tujuh cucu. Penghasilan dari memperbaiki sepatu menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Dia juga menggunakan jasa ojek langganan untuk berangkat dan pulang bekerja karena sudah tidak kuat berjalan jauh. Dalam sehari, ongkos ojek yang dikeluarkannya sekitar Rp30 ribu.
“Kan saya (naik) ojek sehari Rp 30 ribu. Pagi sore, pulang pergi. Jalan nggak kuat, udah tua begini,” sebutnya.
Di usia 67 tahun, Mahendar masih merasa pekerjaannya sebagai tukang sol tak terlalu berat. Selama masih ada pemasukan setiap hari, ia memilih terus menjalaninya.
“Nggak ada yang berat. Semangat aja,” ujarnya.
“Ya senangnya begini aja. Jadi kita bertahannya karena tiba-tiba Rp1.000-Rp2.000 tiap hari ada pemasukan. Jadi kita nggak pernah kerja bulanan. Kita malah repot,” lanjutnya.
Puluhan tahun menjadi tukang sol tidak membuat Mahendar berhenti memiliki keinginan untuk mengubah kehidupannya. Dia bercerita, ingin suatu hari kembali ke kampung dan membuka usaha jual-beli ikan.
Mahendar mengatakan sudah memiliki empang, tetapi belum mempunyai modal untuk menjalankan usaha tersebut.
“Kalau punya modal pengin pulang ke kampung, pengin jual-beli ikan. Empang udah ada, udah punya. Tinggal modalnya aja yang nggak punya,” terang dia.
Dia pun membayangkan masa tua yang lebih dekat dengan keluarga dan bisa menjalani aktivitas di kampung.
“Kalau di kampung kan kita bisa bertani, ngurusin keluarga (jadi) dekat. Kan lebih enak. Umur kita udah tua, lebih baik di kampung,” bebernya.
Namun, untuk saat ini, ia masih setia dengan jarum dan benangnya. Sebab, dari pekerjaan sederhana itulah Mahendar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mengumpulkan hasil yang dia rasakan selama puluhan tahun.
“Ya untuk makan cukup, itu aja. Diambil simplenya, cukup,” tutupnya.
