Jasa Penukaran Uang Receh di Yogyakarta Kini Sepi Peminat

Menjelang hari Lebaran, Jalan Panembahan Senopati, Kota Yogyakarta selalu tampak berbeda. Jasa penukaran uang receh dadakan berderet di sepanjang jalan tersebut.
Uang pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, dan Rp 20.000 tertata rapi di sebuah wadah kotak menyambut pengguna jalan yang melintas.
Namun, Lebaran kali ini tidak seperti biasanya. Peminat jasa penukaran uang receh sepi. Penyebabnya tak lain pandemi virus corona dan larangan mudik.
Hal itu yang dirasakan Sunarto (59), salah seorang penjual akik yang beralih ke jasa penukaran uang receh tiap Ramadhan tiba.
"Biasanya dari luar kota banyak yang nukar, terus [sekarang] enggak ada. Terasa penurunannya," kata Sunarto saat ditemui, Sabtu (8/5) sore.
Dia menjelaskan sebelum corona mewabah, setiap harinya ada 20 orang yang menukarkan uang. Namun, sekarang tidak lebih dari separuhnya.
"Ya, kalau itu pokoknya dapatnya itu kurang 50 persen sekarang. Sehari 20 orang dulu, sekarang enggak sampai," ujarnya.
Selama ini, pecahan Rp 5.000 paling banyak dicari. Biasanya dari pecahan Rp 5.000 sejumlah Rp 100.000 ini dia bisa mendapatkan imbalan jasa Rp 10.000.
"Karena sepi kadang Rp 6.000 saja jasanya," ujarnya.
Hal senada dirasakan Alfan (45). Dia mengakui pandemi corona berdampak langsung pada bisnis ini. Sama seperti Sunarto, jasa penukaran uang receh adalah bisnis yang ada di tiap Ramadhan.
Di Jalan Penembahan Senopati ini, sehari-harinya Alfan berjualan figure.
"Ya, ada pengurangan karena dilarang mudik, to. Tetap berjalan cuma berkurang beberapa persen," kata Alfan.
Keduanya berharap agar pandemi corona segera berakhir. Pasalnya wabah ini menghantam seluruh sektor terlebih sektor pariwisata di Yogyakarta.
