Jatuhnya Sampah Luar Angkasa Tak Bisa Diprediksi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sampah Luar Angkasa (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Sampah Luar Angkasa (Foto: Wikimedia Commons)

Benda bulat serupa kendi jatuh di Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat. Belakangan diketahui benda yang jatuh dengan suara dentuman pada Selasa (18/7) adalah sepihan roket yang menerbangkan satelit navigasi China pada 2007.

Jatuhnya sampah luar angkasa di Indonesia bukan kali pertama. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat sudah lima kali serpihan roket atau satelit jatuh di Indonesia. Namun, Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, menyebut jumlah sebenarnya bisa lebih banyak.

"Kebanyakan jatuh di hutan atau di laut tapi kami tidak mengetahui, baru diketahui kalau jatuh dekat pemukiman warga," kata Thomas kepada kumparan (kumparan.com) baru-baru ini.

Menurut Thomas, LAPAN mengamati pergerakan sampah angkasa yang mengorbit di atas wilayah Indonesia. Sehingga, benda yang jatuh bisa langsung diketahui negara pemilik serpihan satelit atau roket negara.

"Begitu ada yang jatuh kami lihat ke database sampah luar angkasa. Seperti yang jatuh di Sumatera Barat, kita cocokkan ternyata ada yang melintas di sana sekitar 09.07 WIB. Serpihan roket CZ 3A yang melontarkan satelit Beidou M1 milik RRT (China)," sebut Thomas.

Benda asing yang jatuh dari langit (Foto: tribratanewsagam.com)
zoom-in-whitePerbesar
Benda asing yang jatuh dari langit (Foto: tribratanewsagam.com)

Meski bisa memantau sampah luar angkasa di langit Indonesia, tapi LAPAN kesulitan memperkirakan jika ada benda yang kemungkinan jatuh. "Ketidakpastiannya ribuan kilometer," ujar Thomas.

Dia mencontohkan, saat serpihan roket milik China jatuh di Bengkulu pada 2003. Padahal, perkiraan awal, sampah angkasa itu akan jatuh di Arab Saudi.

Selain itu, bagian roket milik Amerika Serikat yang jatuh di Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada 2016. Serpihan roket itu, sempat diperkirakan akan jatuh di Laut Hindia.

Sampah angkasa yang diketahui jatuh di Indonesia, dikumpulkan LAPAN di Pusat Sains Antariksa, Bandung, Jawa Barat, untuk diteliti. LAPAN tidak mengembalikan serpihan itu ke negara pemiliknya, kecuali diminta.

"Seperti yang jatuh di Madura, Amerika (Serikat) minta dikembalikan," ujarnya.