Jejak Anarko di Demo Ricuh yang Disebut Polisi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang demonstran mengibarkan bendera Anarko saat demo di depan Gedung DPR, Selasa (24/9/2019). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang demonstran mengibarkan bendera Anarko saat demo di depan Gedung DPR, Selasa (24/9/2019). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Dalam kericuhan yang terjadi di beberapa daerah usai diawali aksi unjuk rasa sepekan terakhir, nama Anarko kembali disebut-sebut sebagai kelompok yang terlibat kerusuhan ini.

Polisi mengatakan Anarko itu bukan profesi, tapi orang yang berniat melakukan kerusuhan.

Kerusahan di Sumut

Di Sumut, sebanyak 19 anarko ditangkap polisi karena terlibat kerusuhan.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan mengatakan unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa dan driver ojek online di Kantor DPRD Sumut semula berjalan dengan damai.

Namun dari massa lain. Mereka sempat membuat kericuhan dengan melemparkan batu, petasan dan bambu ke arah aparat keamanan. Polisi merespons dengan menembakkan water cannon.

Suasana aksi demo ricuh di depan kantor DPRD Sumut, Medan (29/8/2025). Foto: Amar Marpaung/kumparan

"Tadi kami juga menemukan ada sekelompok massa ya, massa ini kami sebut sebagai massa cair atau anarko (orang yang berbuat anarkis), yang memang berusaha bergabung dengan grup mahasiswa dan ojek online," ujar Ferry.

"Massa cair ini melakukan tindakan yang anarkis. Sehingga mengakibatkan 11 personel kami luka. Dan salah satu rekan ojek online terkena luka yang disebabkan oleh massa cair itu," lanjut Ferry.

Terlibat Pembakaran di Pekalongan

Massa menjarah barang di kompleks kantor Wali Kota dan DPRD Pekalongan. Foto: Istimewa

Sekelompok oknum yang disebut polisi sebagai Anarko, membakar dan merusak sejumlah fasilitas, mulai dari pos jaga DPRD, bilik ATM, hingga ruang rapat.

Kericuhan ini terjadi setelah komunitas ojek online membubarkan diri usai menggelar aksi unjuk rasa. Kemudian, tiba-tiba muncul kelompok Anarko yang melakukan pembakaran dan perusakan.

"Iya benar, kronologinya aksi anarkis tiba-tiba merangsek masuk ke DPRD Pekalongan Kota. Langsung merangsek," ujar Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto saat dikonfirmasi, Sabtu (30/8).

Ia mengatakan, kelompok tersebut membakar pos jaga dan bilik ATM yang berada di kawasan gedung DPRD.

"Kelompok anarko membakar pos jaga DPRD dan bilik ATM," sebut Artanto.

Lempar Molotov di Bandung

Suasana di Kampus 1 Unisba, Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/9). Foto: Linda Lestari/kumparan

Ramai di media sosial narasi polisi menyerang kampus Unisba di Jalan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Senin malam hingga Selasa dini hari (2/9).

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan memberikan klarifikasi, dan menyatakan bahwa sesungguhnya petugas yang melakukan patroli dengan skala besar berupaya membubarkan sekelompok anarko di depan Unisba.

Berikut penjelasan Hendra selengkapnya, sebagaimana video yang diterima kumparan pada Selasa (2/9):

Dalam rangka menciptakan pemeliharaan Kamtibmas, kami secara rutin menggelar patroli ke beberapa titik berdasarkan kriteria intelijen, dan laporan masyarakat yang resah di beberapa lokasi khususnya di Kota Bandung.

Patroli ini dilaksanakan secara gabungan dengan TNI berskala besar, dan saat di lokasi, Jalan Tamansari, ditemukan tumpukan batu, kayu, serta bakar-bakaran ban.

Dan di saat yang sama adanya sekelompok orang memakai baju hitam yang diduga sebagian besar adalah anarko, mereka itulah awalnya yang menutup jalan, dan membentuk blokade di Tamansari, sambil anarkis, sehingga tim patroli berskala besar gabungan TNI-Polri ini turun.

Mereka secara khusus merancang skenario provokator di mana mereka memancing petugas dan memaksa mundur ke kampus Unisba dengan harapan petugas menyerang kampus.

Namun kita tetap tenang dan tidak terpancing dengan skenario mereka dan kita lakukan penyisiran sepanjang jalan.

Anarko melakukan provokasi dari dalam kampus Unisba, dengan melempar bom molotov ke tim patroli kendaraan roda dua dan empat mobil rantis Brimob, terlihat yang ada di video kami.

Tim kemudian menembakkan gas air mata di jalan raya yang kemudian tertiup angin ke arah parkiran Unisba. Ini yang kemudian provokator dari anarko yang inginkan, dan memang menunggu momen membenturkan antara mahasiswa dengan petugas.

Mereka membuat framing di media sosial, di akun-akun mereka bahwa petugas masuk kampus dan membawa senjata peluru karet dan menembakkan gas air mata yang semua itu adalah hoaks.

Pada kenyataannya di lapangan, tidak ada satu petugas yang masuk ke kampus dan tidak ada satu pun petugas yang membawa senjata.

Jarak petugas kurang-lebih 250 meter dari kampus Unisba dan tembakan tidak ada yang diarahkan ke kampus, semua itu ke jalan raya, di mana sekelompok orang berbaju hitam tadi berkumpul dan menghadang jalan dan melakukan pembakaran.

Dan setelah kondisi jalan Tamansari bisa kita kuasai, situasi aman, dan kelompok baju hitam ini juga kabur, kita melakukan keliling patroli ke ibu kota.

Jejak Anarko di Demo May Day 2025

Para aksi massa May Day dipukul mundur oleh Kepolisian di depan Gedung DPR, Kamis (1/5/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2025 pada Kamis (1/5) diwarnai sejumlah demo di beberapa lokasi. Namun, aksi penyampaian pendapat itu diwarnai kericuhan.

Para pelaku kericuhan mengenakan pakaian serba hitam. Polisi menyebut kelompok anarko yang menyusupi massa demo hingga menimbulkan kericuhan.

Di Jakarta salah satunya, aksi yang berjalan damai itu mendadak ricuh saat menjelang sore hari. Polisi membubarkan paksa massa pada pukul 17.10 WIB. Alasannya karena disusupi anarko.

“Aksi unjuk rasa di depan gedung DPR/MPR RI disusupi perusuh dari kelompok anarko,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi kepada kumparan pada Kamis (1/5).

Ade menyebut, penyusup anarko melempari kendaraan yang melintas di lokasi. Ini membahayakan warga.

Demikian juga di Bandung, tiba-tiba ada sekelompok orang yang mengenakan baju serba hitam merusak fasilitas taman.

Sekitar pukul 16.16 WIB, polisi turun ke lokasi membubarkan massa. Massa dipukul mundur ke arah Jalan Dipatiukur Bandung. Di sepanjang jalan tersebut tampak bekas perusakan. Seperti pot pecah, dan sejumlah plang jalan dicabut. Ada juga tampak batu dan sampah yang berserakan.

Salah satu toko kopi yang ada di jalan itu pun turut jadi sasaran perusakan. Tembok dan kaca depannya tampak coretan cat semprot.

****

Pesan redaksi:

Demonstrasi merupakan hak warga negara dalam berdemokrasi. Untuk kepentingan bersama, sebaiknya demonstrasi dilakukan secara damai tanpa aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.