Jejak 'Macan Tutul' di Jalur Evakuasi Merapi Sleman Ternyata Telapak Anjing

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jejak satwa liar yang diduga macan tutul di jalan betonisasi yang tengah di bangun di jalur evakuasi Suruh Singlar, Dusun Ngancar, Desa Glagaharjo, Kecamatan Camgkringan, Sleman Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jejak satwa liar yang diduga macan tutul di jalan betonisasi yang tengah di bangun di jalur evakuasi Suruh Singlar, Dusun Ngancar, Desa Glagaharjo, Kecamatan Camgkringan, Sleman Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengecek lokasi jejak satwa liar yang diduga macan tutul di jalan betonisasi yang tengah dibangun di jalur evakuasi Suruh Singlar, Dusun Ngancar, Desa Glagaharjo, Kecamatan Camgkringan, Sleman. Dari pengecekan dipastikan bahwa jejak tersebut adalah jejak anjing.

Kepala Balai TNGM, Pujiati menjelaskan pagi tadi bersama Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) sudah menganalisa jejak satwa tersebut.

"Tadi kami ke sana bersama PEH kami yang memang biasa berurusan dengan matul (macan tutul) ya. Jadi dia juga sering ikut kegiatan terkait monitoring macan tutul dan lain-lain. Jadi tadi saya ke TKP ke Desa Glagaharjo. Bahwa itu jelas jejak anjing," kata Pujiati melalui sambungan telepon dengan wartawan, Selasa (24/11).

kumparan post embed

Pujiati menjelaskan jejak tersebut dapat disimpulkan sebagai jejak anjing dari bentuknya. Menurutnya, jejak kucing besar seperti macan tidak tampak kukunya. Sementara jejak anjing pasti menampakkan kuku.

"Karena kalau jenis-jenis kucing macam kucing hutan, kucing rumah, macan itu kalau berjalan kukunya selalu diumpetin tidak mungkin keluar. Yang ada itu (di Suruh Singlar) ada jejak kukunya ada," ujarnya.

Kemudian bantalan kaki tersebut segitiga yang menunjukkan bahwa itu jejak anjing. Sementara jika macan tutul maka jejaknya agak membulat dan lonjong.

"Dan bantalan kakinya segitiga itu menunjukkan jejak anjing. Kalau macan itu dia cenderung agak membulat atau lonjong sedikit. Jelas itu jejak anjing," katanya.

Meski begitu, Pujiati menjelaskan pihaknya tetap akan memasang kamera trap untuk lebih meyakinkan bahwa itu memang benar anjing.

"Rencana dipasang di sekitar sana," ujarnya.

Selain itu, soal informasi ada warga yang melihat macan tutul sebelum-sebelumnya, Pujiati mengatakan bisa saja warga salah melihat karena kondisi gelap.

"Itu mungkin karena gelap bisa salah lihat. Tapi untuk menyakinkan kamera trap itu (akan dipasang)," ujarnya.

Sementara itu, Wawan Setiawan warga Glagaharjo menjelaskan bahwa isu soal keberadaan macan tutul di desanya memang sering terdengar sejak dirinya kecil. Hanya saja dia tidak pernah melihat secara langsung.

"Banyak isu seperti itu. Tapi hanya desas desus. Kalau yang pernah saya temui itu landak dan biawak," kata alumni FBS UNY tersebut.

embed from external kumparan