Jejak Perlawanan Ikhwanul Muslimin terhadap Israel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kelompok Ikhwanul Muslimin. Foto: Khalil Mazraawi/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelompok Ikhwanul Muslimin. Foto: Khalil Mazraawi/AFP

Presiden AS Donald Trump menetapkan cabang Ikhwanul Muslimin di Yordania, Mesir, dan Lebanon sebagai organisasi teroris internasional. Dalam keppres yang diteken Trump, salah satu alasannya adalah sayap militer Ikhwanul Muslimin di Lebanon melancarkan berbagai serangan roket terhadap sasaran militer dan sipil di Israel usai serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Sebagai salah satu gerakan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia Arab, Ikhwanul Muslimin sejak berdiri pada 1928 sangat mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam agresi Israel.

Pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan al-Banna, pernah menyatakan bahwa Palestina adalah masalah seluruh umat Islam. Saudara al-Banna, 'Abd al-Rahman al-Banna, pergi ke Palestina dan mendirikan Ikhwanul Muslimin di sana pada 1935. Ikhwanul Muslimin di Palestina pada masa awal dipimpin oleh Al-Hajj Amin al-Husseini, tokoh yang ditunjuk Inggris sebagai Mufti Besar Palestina.

Tokoh lainnya yang berpengaruh di Ikhwanul Muslimin Palestina adalah 'Izz al-Din al-Qassam. Dia menjadi inspirasi bagi kaum Islamis karena menjadi orang pertama yang memimpin perlawanan bersenjata atas nama Palestina melawan Inggris pada 1935.

Perlawanan bersenjata Ikhwanul Muslimin berlanjut saat perang Arab-Israel pada 1948. Anggota Ikhwanul Muslimin bertempur bersama tentara Arab.

Dengan terbentuknya negara Israel dan dampak dari Nakba, pengungsi Palestina banyak yang terdorong bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.

Usai perang, aktivitas Ikhwanul Muslimin khususnya di Tepi Barat bersifat sosial, keagamaan, dan tidak menyinggung politik. Hubungan Ikhwanul Muslimin relatif baik dengan Yordania saat negara itu menganeksasi Tepi Barat. Sebaliknya, Ikhwanul Muslimin sering berselisih dengan pemerintah Mesir yang mengontrol Jalur Gaza pada 1967.

Meski berselisih, Ikhwanul Muslimin tetap mengangkat senjata bersama Mesir dalam Perang Enam Hari pada 1967. Sayangnya, Perang Enam Hari itu dimenangkan Israel.

Pascaperang, Ikhwanul Muslimin lebih banyak bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Meski demikian, pendukung Ikhwanul Muslimin tetap menyuarakan dukungannya terhadap Palestina dan menentang Israel.

Di era modern, pendukung Ikhwanul Muslimin sering menggalang dukungan bagi Palestina. Di Yordania, misalnya, cabang Ikhwanul Muslimin aktif mengorganisir aksi pro-Palestina, mengumpulkan bantuan kemanusiaan untuk Gaza, dan mengkritik pemerintah yang menormalisasi hubungan dengan Israel.

Di wilayah Turki dan Eropa, pendukung Ikhwanul Muslimin sering melakukan kampanye, aktivitas solidaritas Palestina dan mengecam Israel.