Jejak Politik Ferdinand Hutahaean: Dari Jokowi Kembali ke Jokowi?

13 Oktober 2020 11:08 WIB
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean  Foto: Dwi Herlambang Ade Putra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean Foto: Dwi Herlambang Ade Putra/kumparan
ADVERTISEMENT
Ferdinand Hutahaean resmi mundur dari Partai Demokrat. Ia memutuskan mundur dari partai yang membesarkan namanya itu karena merasa sudah tak lagi sejalan.
ADVERTISEMENT
"Perbedaan prinsip dan cara pandang terhadap beberapa isu nasional. Saya anggap kawan-kawan di DPP ini salah analisa dan salah resep untuk melihat satu permasalahan. Dan, kedua adalah saya mencontoh isu TKA sampai BBM, penanganan COVID-19 dan kemarin puncaknya Omnibus Law," kata Ferdinand, Senin (12/10).
Nama Ferdinand memang melejit setelah ia bergabung dengan Partai Demokrat pada Mei 2017 lalu. Namun, sebenarnya, jauh sebelum itu, Ferdinand sudah cukup aktif berpolitik dengan menjadi relawan Jokowi di Pilpres 2014.
Bagaimana sepak terjang politik Ferdinand Hutahaean? Berikut kumparan rangkum informasinya:

Petinggi Relawan Jokowi

Presiden Joko Widodo. Foto: BPMI Setpres
Sebelum bergabung dengan partai yang diketuai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ferdinand sudah mulai mencoba berpolitik. Saat itu, pada Pilpres 2014, ia merupakan Ketua DPP Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP).
ADVERTISEMENT
Bahkan, selama di Bara JP, Ferdinand cukup aktif menggelar aksi. Salah satunya adalah dengan membentangkan 1.161 spanduk dukungan untuk Jokowi di berbagai lokasi di Jakarta, mulai dari di Balai Kota DKI hingga ke arah Istana Presiden.
Selama menjadi relawan, Ferdinand juga pernah beberapa kali bertemu dengan Jokowi. Hal ini terlihat dari foto yang ia unggah di media sosial Twitter beberapa waktu yang lalu sebelum mengumumkan keluar dari Partai Demokrat.

Kritik 100 Hari Kepemimpinan Jokowi

Ferdinand Hutahaean. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Jokowi pun berhasil memenangkan Pilpres 2014. Namun, setelah itu, Ferdinand justru kerap mengkritik 100 hari pemerintahan Jokowi yang dinilai mengecewakan.
Saat itu, Ferdinand masih mengatasnamakan dirinya sebagai Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia.
"Saya semakin mulai kritis pada 100 hari pemerintahan beliau, ada diskusi publik saya diundang sebagai pembicara, saya memang menyatakan sikap pada waktu itu, saya agak ragu dengan Jokowi ini lama kelamaan," ungkap Ferdinand saat itu.
ADVERTISEMENT
"Dan sekarang terbukti memang, sekarang semua yang saya khawatirkan itu terjadi dan saya harus mengambil sikap politik untuk itu," imbuhnya.

Masuk Partai Demokrat

Ilustrasi Partai Demokrat Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Ferdinand akhirnya memutuskan masuk ke Partai Demokrat pada Mei 2017. Selama di partai tersebut, ia sempat ditunjuk sebagai Kadiv Hukum dan Advokasi periode 2015-2020.
Namun, di kepengurusan yang baru yang dipimpin AHY sebagai ketum, Ferdinand berganti posisi menjadi Kepala Biro Energi dan Sumber Daya Mineral Departemen VII. Sedangkan posisi yang ditinggalkan Ferdinand diisi oleh Didik Mukrianto.

Walk Out karena Kecewa dengan Jokowi

Ilustrasi Partai Demokrat di Pemilu 2019. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Pada Maret 2018, Ferdinand sempat membuat heboh karena walk out saat Presiden Jokowi berpidato di Rapimnas Demokrat. Alasannya, tindakan tersebut merupakan tanggung jawabnya sebagai mantan pendukung Jokowi.
ADVERTISEMENT
"Saya melakukan itu sebagai tanggung jawab saya yang dulu mendukung Pak Jokowi. Bahkan saya melakukan itu sebagai wujud ekspresi kekecewaan saya karena janji politik Pak Jokowi tidak ditepati," jelas Ferdinand.
Bukan karena sosok Pak Jokowi secara pribadi, tapi karena janji politiknya dan kemudian janji itu tidak ditepati," imbuhnya.

Jubir Timses Prabowo-Sandi

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) tiba di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Setelah sempat 'terombang-ambing', Partai Demokrat akhirnya memutuskan mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Sebagai perwakilan partai, Ferdinand Hutahaean pun ditunjuk sebagai juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.
Namun, ujung-ujungnya, Ferdinand memutuskan mundur dan menarik dukungannya. Hal itu disebabkan oleh cuitan netizen pendukung Prabowo-Sandi yang menyerang istri Ketua Umum Demokrat --saat itu-- Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono.
"Pagi ini saya menemukan bully-an yang sangat tidak berperi kemanusiaan dari buzzer setan gundul yang mengolok Ibunda Ani yang sedang sakit. Sikap itu sangat brutal. Atas perilaku brutal buzzer setan gundul itu, saya Ferdinand Hutahaean, saat ini menyatakan berhenti mendukung Prabowo Sandi," cuit Ferdinand, 19 Mei 2019 lalu.
ADVERTISEMENT

Maju Pileg 2019

Selama Pileg 2019, Ferdinand sebenarnya juga mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. Ia maju dari daerah pemilihan Jawa Barat V yang meliputi Kabupaten Bogor. Namun, Ferdinand tak lolos ke Senayan.

Keluar dari Partai Demokrat

Imelda dan Ferdinand saat konferensi pers Partai Demokrat terkait kasus Andi Arief di DPP Demokrat, pada Senin (4/3). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Di Partai Demokrat, Ferdinand sebenarnya merupakan salah satu tokoh yang cukup vokal dan kontroversial dan sosoknya lekat dengan partai. Namun, pada Minggu (11/10) lalu, ia menggegerkan publik karena mengaku memutuskan keluar dari partai.
Sebelum mundur, sebenarnya Ferdinand juga sudah beberapa kali mencuitkan pendapat yang berbeda dengan sikap partai. Misalnya soal Omnibus Law UU Cipta Kerja yang ditolak oleh Partai Demokrat.
"Kemarin soal Omnibus Law partai menyatakan bahwa ini liberalistis, kapitalis dan tidak Pancasilais. Tapi justru menurut saya UU ini rohnya Pancasila dan tujuannya mewujudkan cita cita kemerdekaan masyarakat, adil, makmur, sejahtera," jelas Ferdinand.
ADVERTISEMENT
Surat pengunduran diri tersebut dikirimkan pada Senin (12/10) ke DPP Partai Demokrat.

Ditawari Partai Pro Jokowi

Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean Foto: Dwi Herlambang Ade Putra/kumparan
Keluar dari Partai Demokrat bukan berarti keluar dari dunia politik. Saat ini, Ferdinand masih mencari-cari partai yang cocok untuknya. Bahkan, ia mengaku sudah ada rekan-rekannya yang menawarkan bergabung dengan partai pendukung pemerintah.
ADVERTISEMENT
"Saya belum berpikir apakah di PDIP, NasDem, Golkar dan lain-lain meskipun banyak kawan-kawan politisi mengajak saya bergabung di partai mereka. Saya bilang 'Bang, mohon izin nanti dulu, saya sekarang bereskan pengunduran diri dulu," kata Ferdinand.
"Dari banyak partai yang ajak. Ya, intinya yang mengajak saya parpol yang ada di pemerintahan," pungkasnya.
****
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
ADVERTISEMENT