Jejak Tjong A Fie di Medan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)

Merantau dari negeri tirai bambu, tepatnya Cina Selatan ke Labuan Deli, ternyata mengubah jalan hidup Tjong A Fie. Ia mengikuti jejak saudara laki-lakinya, Tjong Yong Hian ke tanah Deli pada usia 18 tahun.

Lahir dari keluarga yang sederhana pada tahun 1860, di Meixian, Guangdong, Tiongkok. Pendidikan yang ditempuhnya tidaklah lama, karena ia harus bekerja membantu keluarganya untuk bertahan hidup. Tjong A Fie meninggal pada 1921 di Medan.

video youtube embed

Jejak kariernya berawal sejak ia bekerja di salah satu toko milik rekan kakaknya. Selama masa itu, Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok teladan karena dikenal sebagai orang yang positif dan selalu membantu orang-orang yang bermasalah antar etnis. Sehingga pada tahun 1911 ia mendapat gelar Major/Kapitan Tionghoa.

Kesultanan Deli kemudian menaruh kepercayaan kepadanya untuk mengelola perkebunan. Sehingga perlahan ia mengumpulkan hasil jerih payahnya untuk bisa memiliki perkebunan sendiri. Dengan kegigihan dan keuletannya mendalami bisnis perkebunan yang ia rintis, Tjong A Fie bisa menjadi pemilik perkebunan terluas di Kota Medan dan memiliki 10.000 orang pekerja.

Family tree keluarga Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Family tree keluarga Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)

Tidak berhenti sampai di situ, ketertarikannya dengan dunia bisnis pun merambah, salah satunya adalah perbankan. Ia menjadi orang pertama yang membuka bank di Kota Medan, yaitu Deli Bank/Bank Kesawan.

Pria yang merupakan anak ke 4 dari 7 orang bersaudara ini memiliki filsafah yang selalu ia pegang teguh, yakni "di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak". Bahkan filsafahnya tersebut pun tercermin dari bangunan rumahnya.

Cicit Tjong A Fie, Anggiea Putra Prawira (30) menjelaskan bahwa hal itu dapat dilihat dari gaya arsitektur rumah peninggalan buyutnya yang merupakan gabungan dari 3 budaya. Yakni Cina, Melayu dan Eropa.

Ballroom rumah tjong a fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ballroom rumah tjong a fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)

"Kenapa China, ya memang karena beliau asalnya dari sana, tepatnya Cina Selatan. Kemudian Melayu, untuk menghormati tempatnya di Deli, di Medan. Kemudian ada Eropa juga, yang zaman dulu memang Belanda yang ada di sana," jelas pria yang disapa Anggi itu kepada kumparan (kumparan.com).

Sehingga kemudian filsafah tersebut akhirnya menjadi sangat populer di tengah masyarakat dan telah berhasil menginspirasi berbagai kalangan bahkan hingga saat ini.

Selain filosofinya tersebut, Tjong A Fie juga dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Ia sering membantu masyarakat yang mengalami kesulitan dan sebagai orang yang memegang prinsip multikultural, ia membangun beberapa rumah ibadah, seperti mesjid, gereja, kuil, dan vihara. Tidak hanya di Medan, tapi juga di daerah lain, guna untuk menyatukan suara masyarakat yang saat itu rentan dengan isu SARA.

Ruang Baca rumah Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ruang Baca rumah Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)

Ia juga membangun beberapa fasilitas lain seperti rumah sakit dan jembatan, yang saat ini dinamakan Jembatan Kebajikan, di Jalan Zainul Arifin, Medan.

Tjong A Fie menikah dengan Lim Koei Yap , yang merupakan anak dari mandor perkebunan dari Binjai. Lim Koei Yap adalah istri ketiga orang terkaya di Kota Medan itu. Usia mereka terpaut cukup jauh, yaitu 20 tahun, dan mereka dikaruniai 7 orang anak.

Ballroom rumah Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ballroom rumah Tjong A Fie (Foto: Ade Nurhaliza/kumparan)