Jelang Muktamar PBNU, Cak Imin Kritik Era Gus Yahya: Ini yang Paling Mundur

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) usai Halal Bihalal dan Penghargaan Kaderisasi di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Jumat (10/4). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) usai Halal Bihalal dan Penghargaan Kaderisasi di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Jumat (10/4). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, melontarkan kritik keras terhadap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di era kepemimpinan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Cak Imin menyebut PBNU kini mengalami kemunduran paling parah dibanding periode-periode sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan Cak Imin di tengah dinamika menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 PBNU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.

“Ngomong jujur ya, PBNU periode ini PBNU yang paling mundur dibanding yang lain. Itu keprihatinan semua pihak. Tapi hanya Muhaimin yang berani ngomong,” kata Cak Imin saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (22/6)

Ia menegaskan, keberaniannya mengkritik PBNU bukan didorong kepentingan politik, melainkan sebagai wujud tanggung jawab kader.

“Kenapa saya berani ngomong? Saya sebagai kader NU tidak ingin ada kemunduran di dalam pengelolaan Pengurus Besar NU. Ini sebagai rasa cinta saya sebagai kader agar terjadi perubahan manajemen menyeluruh supaya tidak ada lagi kesimpulan periode ini periode yang paling gagal dibanding periode-periode yang lain. Supaya disadari, ada perbaikan,” ujarnya.

Cak Imin juga menegaskan bahwa kritiknya semata-mata lahir dari rasa tanggung jawab sebagai kader, bukan dari kepentingan politik.

“Saya ngomong bukan karena saya politisi, bukan. Karena saya adalah kader yang ingin ikut bertanggung jawab, bertanggung jawab memperbaiki,” katanya.

Ketua PBNU, Gus Yahya saat memberikan keterangan pers mengenai isu-isu terkini di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Cak Imin pun menyerukan agar PBNU dibersihkan dari unsur politisi. Menurutnya, aturan soal itu sebetulnya sudah ada, namun perlu dipertegas pelaksanaannya.

“Salah satu formulanya, PBNU harus bersih dari politisi. Politisi NU silakan masuk partai. Di periode ini ditegaskan dalam aturan internalnya. Sebetulnya aturannya ada, cuma penegasannya saja,” katanya.

PBNU Bukan Organisasi Politik

Sebelumnya, Cak Imin juga menyuarakan hal serupa melalui akun X pribadinya, @cakimiNOW. Ia menilai bahwa NU bukan organisasi politik.

“NU itu bukan organisasi politik yang membuat hubungan selalu kompetitif, NU itu orkestrasi kultural yang Minna, tidak saling meminhumkan; berbagai kemampuan kecerdasan sosial bersatu padu,” tulis Cak Imin.

Ia menegaskan, agar mereka yang berpolitik tidak mencampuradukkan kegiatannya dengan organisasi.

Ilustrasi kantor Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Shutterstock

“Yang main-main di NU keluarkan aja. Yang berpolitik silahkan di Partai aja. NU itu lesehan dan menyatu tanpa ketegangan. Kangen Pak Hasyim Muzadi rek!” tulisnya.

Adapun PBNU dijadwalkan menggelar Muktamar ke-35 pada 1-5 Agustus 2026. Forum tertinggi organisasi tersebut akan membahas berbagai agenda strategis, termasuk memilih kepemimpinan baru untuk periode berikutnya.