Jemaah Haji Indonesia yang Wafat Telah Mencapai 273 Orang

Jumlah jemaah haji asal Indonesia yang wafat terus bertambah di masa setelah Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Bahkan jumlahnya merupakan yang terbanyak dalam periode yang sama dibanding tahun sebelumnya.
Menurut data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) per Selasa (20/8) jumlah jemaah haji yang wafat mencapai 273 orang. Sebagian besar adalah jemaah lansia dengan berbagai penyakit, seperti jantung atau paru.
Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Madinah Akhmad Jauhari mengatakan grafik kematian jemaah saat ini trennya naik dibanding tahun sebelumnya. "Oleh karenanya ini menjadi perhatian kita," kata Jauhari kepada tim Media Center Haji.
Berdasarkan data 5 tahun ke belakang pada periode yang sama, angka wafat 2019 merupakan ketiga terbesar. Untuk periode ini, jumlah wafat terbanyak terjadi pada 2015 dengan 476 orang, disusul 2017 dengan 432 orang, lalu tahun 2019.
"Faktornya banyak, salah satunya persentase jumlah jemaah risti yang banyak. Kedua faktor cuaca juga mempengaruhi. Bagaimanapun ketika jemaah melaksanakan aktivitas di luar dengan kondisi cuaca yang cukup panas, sangat berdampak pada kondisinya," kata Jauhari.
Sebanyak 63 persen dari 214 ribu jemaah haji reguler masuk kategori risti atau risiko tinggi karena usia lanjut. Hal ini diperparah dengan cuaca panas ekstrem yang mendera Makkah dan Madinah pada tahun ini. Suhu rata-rata di dua kota suci tersebut mencapai lebih dari 40 derajat Celcius.
Beberapa prosesi haji membutuhkan fisik yang prima, seperti tawaf, sa'i, dan melontar jumrah. Saat ini prosesi haji telah rampung, jemaah gelombang pertama mulai dipulangkan ke tanah air. Sementara jemaah gelombang kedua akan mengunjungi Madinah.
Jauhari mengimbau jemaah yang akan ke Madinah untuk banyak-banyak istirahat memulihkan tenaga setelah lelah pada masa Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).
"Kalau ingin melakukan aktivitas, hanya sifatnya yang penting saja, seperti Arbain, kemudian ziarah di sekitar kota Madinah. Setelah itu diharapkan jemaah lebih banyak beristirahat di hotel sehingga tidak banyak menguras tenaga," kata Jauhari.
