Jemaah Haji Jalan 7 Km ke Mina: Penjelasan Kemenag hingga Sorotan Timwas DPR
·waktu baca 6 menit

Jemaah haji, terutama asal Indonesia, terpaksa berjalan kaki sejauh 7 kilometer dari Muzdalifah ke Mina, Jumat pagi (6/6). Ini disebabkan bus yang tidak kunjung datang untuk membawa mereka.
Jemaah haji mulai menumpuk di Muzdalifah selepas magrib, Kamis (5/6). Pada Jumat dini hari, sudah ada yang mengantre untuk dijemput naik bus.
Pada saat itu, beberapa bus datang dan jemaah langsung berbaris di pintu keluar untuk menuju bus. Yang terjadi kemudian adalah mereka berdesak-desakan, bahkan ada jemaah yang tergencet karena ada jemaah yang dari samping menerobos masuk ke barisan depan.
Syarikah Dinilai Tak Komitmen Sediakan Transportasi Jemaah Haji ke Mina
Wakil Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), Dahnil Anzar Simanjuntak, memberikan catatan mengenai pelaksanaan puncak haji, khususnya di Mina yang saat ini sedang berlangsung.
Dahnil menilai pihak syarikah atau mitra yang melayani jemaah haji Indonesia kurang maksimal. Pada tahun ini, ada delapan syarikah yang melayani jemaah haji Indonesia, yaitu Al-Bait Guest, Rakeen Mashariq, Sana Mashariq, Rehlat & Manafea, Alrifadah, Rawaf Mina, MCDC, dan Rifad.
“Catatan di Mina itu keberlangsungan dari Muzdalifah, pengangkutan dari Muzdalifah menuju Mina itu banyak yang tidak terangkut dan dari syarikah tidak komitmen penyediaan transportasi,” kata Dahnil di Jamarat, Sabtu (7/6).
Perjalanan ke Mina dari Muzdalifah pada Jumat (6/6) sempat terkendala kemacetan yang membuat perjalanan bus tidak lancar. Jemaah haji lalu memilih untuk berjalan kaki ke Mina.
Dahnil menyebut kondisi itu membuat banyak jemaah haji terpisah dari rombongannya.
Jemaah Haji Tersesat saat Armuzna
Fase puncak haji 2025 di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sedang berlangsung. Jemaah haji saat ini sedang proses mabit dan melempar jumrah di Mina.
Perjalanan fase puncak itu diwarnai jemaah kesulitan mencari tenda baik saat di tenda Arafah maupun Mina. Kepala Satuan Operasional (Kasatops) Armuzna, Harun Al Rasyid, menilai tersesatnya jemaah itu salah satunya karena ada faktor kelelahan.
“Memang sudah kita prediksi ya, ketika tanggal 10 Zulhijjah, di mana jemaah bergerak dari Arafah ke Muzdalifah ini kan dalam kondisi lelah. Sudah cukup (menyita) energi, memeras juga tenaga, tidur juga ala kadarnya,” kata Harun di Mina, Jumat (6/6) malam waktu setempat.
“Ditambah lagi selama di Muzdalifah hampir tidak tidur. Mungkin seandainya tidur juga tidak cukup lah itu. Kemudian setelah itu bergerak lah ke sini, berarti kan sudah hampir 2 hari itu,” tambahnya.
Selain itu, Harun menilai para jemaah haji sesampainya di Mina masih belum beradaptasi atau mengetahui tenda tempatnya menginap. Hal itu berimbas juga ke perjalanan jemaah saat melempar jumrah.
“Sehingga berpotensi jemaah itu ketika kembali dari Jamarat, jemaah banyak yang tidak tahu arah pulang, tidak tahu di mana tendanya,” ujar Harun.
Penjelasan Kemenag soal Jemaah Haji Jalan Kaki dari Muzdalifah ke Mina
Pemberangkatan jemaah haji Indonesia dari Muzdalifah ke Mina mengalami keterlambatan dari target yang ditentukan pada Jumat (6/6). Proses evakuasi jemaah dari Muzdalifah dinyatakan selesai pada 09.40 Waktu Arab Saudi (WAS) dari target pukul 09.00 WAS.
Perjalanan tersebut sempat terkendala kemacetan yang membuat perjalanan bus tidak lancar. Jemaah lalu banyak yang memilih untuk berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina.
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief, menjelaskan awal pemberangkatan jemaah haji dari Muzdalifah ke Mina sudah sesuai dengan kebijakan Pemerintah Arab Saudi, yaitu dimulai pukul 23.35 Waktu Arab Saudi (WAS), pada 10 Zulhijah 1446 H.
“Realisasi di lapangan, pemberangkatan jemaah haji dari Muzdalifah ke Mina secara umum dimulai tepat waktu. Namun secara keseluruhan, proses evakuasi berhasil dilakukan dan Muzdalifah dinyatakan kosong dari jemaah haji Indonesia pada pukul 09.40 WAS, terlambat 40 menit dari target yang ditetapkan,” ujar Hilman di Makkah, Sabtu (7/6).
Lantas, apa penyebab munculnya masalah pergerakan jemaah dari Muzdalifah ke Mina?
Hilman menjelaskan masalah pertama adalah tidak konsistennya jadwal bus, karena ada ribuan bus yang dioperasikan dengan antrean yang panjang. Setelah pukul 00.00 WAS, jadwal keberangkatan bus yang direncanakan terkendala.
“Kondisi tersebut menyebabkan jemaah merasa khawatir,” kata Hilman.
Masalah kedua, keterlambatan perputaran bus dari Mina ke Muzdalifah dalam beberapa jam pada rentang waktu tertentu karena kepadatan lalu lintas. Situasi ini sempat membuat jemaah tidak nyaman, di tengah kondisi mereka yang mengalami kelelahan menunggu penjemputan.
Dalam situasi tersebut, banyak jemaah memilih untuk keluar dari pintu Muzdalifah.
“Karena bus yang terlambat datang, sebagian jemaah memutuskan untuk membuka pintu keluar di Muzdalifah dan berjalan kaki menuju Mina. Hal ini memunculkan arus pergerakan spontan tanpa kendali,” ungkap Hilman.
Ketiga, masifnya jemaah yang berjalan kaki. Pada Jumat (6/6) pagi, jemaah dari berbagai maktab, memutuskan berjalan kaki karena khawatir tidak terjemput dari Muzdalifah hingga siang hari.
Dalam suasana psikologi semacam itu, PPIH Arab Saudi akhirnya melepas sebagian jemaah, namun tetap mengingatkan agar jemaah lansia dan berisiko tinggi (risti) tetap berada di Muzdalifah, menunggu jemputan bus. Sebab, berjalan kaki bagi lansia dan risti akan banyak menguras energi dan menimbulkan kelelahan.
“Pergerakan jemaah pejalan kaki berdampak pada kemacetan di jalur utama shuttle bus. PPIH menerima permintaan dari Kemenhaj dan syarikah untuk menenangkan jemaah dan menghentikan arus jalan kaki, namun sudah tidak dapat dikendalikan,” ungkap Hilman.
Timwas DPR Soroti Minimnya Petugas
Ketua Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyoroti minimnya kehadiran petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di jalur-jalur krusial, khususnya di kawasan lempar jumrah. Hal ini menyebabkan sejumlah jemaah haji Indonesia tersasar saat lempar jumrah di Mina, Makkah, Sabtu (7/6).
Cucun, yang juga Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi PKB ini, menyampaikan kekhawatirannya atas kekurangan personel petugas haji di lapangan, terutama di area padat yang seharusnya dipenuhi petunjuk arah dan bantuan personel.
Ia menilai kurangnya perencanaan dari pihak penyelenggara dalam menempatkan petugas pada titik-titik vital menjadi penyebab utama jemaah kebingungan.
"Petugas yang tembus ke Mina itu harusnya sudah disimulasi dari awal. Mana titik-titik krusial yang sangat penting, seperti di jalur lempar jumrah yang sekarang ini sangat padat. Jemaah kita banyak yang tidak tahu jalur. Harusnya petugas ditempatkan di titik-titik penting biar tidak nyasar, mana jemaah haji reguler, mana yang haji khusus," ujar Cucun di Mina.
Ia mengaku telah menghubungi Direktur Haji Luar Negeri agar segera menambah jumlah petugas di lapangan dan memastikan mereka berada di setiap simpul keramaian untuk mengarahkan jemaah.
Pantauan Timwas DPR RI, pelaksanaan lempar jumrah pada Sabtu kemarin diwarnai kondisi yang cukup memprihatinkan. Selain jemaah yang tersasar dan kelelahan akibat cuaca panas ekstrem, dilaporkan pula adanya jemaah lansia yang terpaksa dibantu keluar dari jalur karena kondisi fisik yang melemah.
Beberapa jemaah bahkan harus dilarikan ke pos kesehatan karena keletihan parah, dan sejumlah kasus wafat juga terjadi dalam rentang waktu puncak haji tersebut.
