Jembatan Putus Akibat Banjir, Siswa di Garut Seberangi Sungai ke Sekolah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puluhan siswa seberangi sungai di hari pertama sekolah. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Puluhan siswa seberangi sungai di hari pertama sekolah. Foto: Dok. Istimewa

Puluhan siswa dari Kampung Pananggungan, Kecamatan Karangpawitan, Garut, Jawa Barat, Senin (18/7) terpaksa harus menyeberangi Sungai Cimanuk menggunakan perahu karet di hari pertama mereka sekolah.

Hal itu dikarenakan jembatan penghubung menuju sekolah mereka putus tersapu banjir, Jumat (15/7) malam.

Salah seorang orang tua siswa yang mengantarkan anaknya sekolah, Odas (38), bahkan sempat meminta anaknya untuk tidak sekolah setelah mengetahui jembatan penghubung putus. Lebih dari itu, ia bersama suaminya sempat berpikir untuk memindahkan anaknya sekolah di tempat lain.

“Anak saya memang sekolah di seberang sungai, masuknya wilayah Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, karena itu memang yang terdekat dari kampung. Tapi karena jembatannya putus, kalau memaksakan ke sekolah yang itu harus muter jauh pisan kalau tidak melewati sungai yang biasa dilewati. Jadinya, ya, kami mikirnya mending dipindahin ajalah,” kata Odas.

Namun begitu ia menerima kabar ada petugas dari TNI, Polri, BPBD, dan FAJI menyiapkan perahu karet, niat memindahkan anaknya ke sekolah lain pun dibatalkan.

“Alhamdulillah, walau harus naik perahu, ya, mending sekolah di yang biasa saja. Jadinya ini anak saya bisa sekolah di hari pertama,” ucapnya.

Mengandalkan Jembatan

Odas mengatakan, jumlah anak yang sekolah di seberang sungai cukup banyak, mencapai puluhan orang. Rata-rata, anak-anak dari kampungnya sekolah tingkat PAUD, TK, SD dan SMP.

Selama ini, untuk bisa sekolah, anak-anak dan para orang tua mengandalkan jembatan penghubung dua kecamatan. Jembatan itu pun menurutnya bukan hanya untuk akses pendidikan saja, tapi juga ekonomi, hingga kesehatan.

“Kalau berobat, ya, dekat ke Puskesmas Sukasenang yang di seberang, jadinya, ya, pasti lewat jembatan itu. Kalau bapak-bapak juga untuk mau kerja, misalnya ngarit dan lainnya suka lewat jembatan itu,” ungkapnya.

Sementara itu, Leudira (8) salah seorang siswa kelas 2 SD menjelaskan, dia naik perahu karet saat menyeberangi sungai menjadi pengalaman pertama baginya. Meski sempat takut, namun karena semangatnya untuk bersekolah, ia bisa melawan rasa takut itu.

Leudira sempat diminta untuk tidak sekolah oleh orang tuanya begitu mengetahui jembatan penghubung putus.

“Sekarang jadinya bisa sekolah karena diseberangkan sama Pak Tentara dan Pak Polisi walau awalnya takut, alhamdulillah bisa sekolah di hari pertama,” ucapnya.

Perahu Karet

Kapolres Garut AKBP Wirdhanto Hadicaksono menyebut TNI-Polri bekerja sama dengan BPBD dan FAJI Garut memang menyiapkan sejumlah perahu karet untuk membantu para siswa untuk sekolah.

“Agar siswa bisa tetap sekolah, apalagi hari ini hari pertama sekolah setelah sebelumnya libur cukup panjang,” sebutnya.

Wirdhanto memastikan meski menggunakan perahu karet, unsur keselamatan tetap menjadi perhatian. Selama proses penyeberangan, seluruh yang ada di atas perahu karet harus menggunakan rompi pelampung.

Wirdhanto menjelaskan, jembatan penghubung itu akan kembali dibangun walau untuk sementara, namun bisa tetap dilewati dengan aman oleh siswa dan masyarakat.

Komandan Kodim 0611 Garut sudah berkoordinasi dengan Zipur untuk membangun jembatan.

“Info yang kami terima, jumlah siswa dari kampung seberang ini mencapai 70 orang. Oleh karena itu tentunya kami harus memikirkan bagaimana agar pendidikan mereka tidak terganggu,” kata Wirdhanto.