Jembatan Teluk Kendari Ditargetkan Beroperasi Tahun Depan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pembangunan Di Sulawesi Tenggara (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan Di Sulawesi Tenggara (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tengah mengerjakan proyek pembangunan infrastruktur di wilayah Sulawesi Tenggara dengan anggaran Rp 1,57 triliun. Dana tersebut terbagi atas infrastruktur ketahanan air dan kedaulatan pangan sebesar Rp 553,88 miliar, peningkatan konektivitas antar wilayah Rp 825,1 miliar, permukiman Rp 119,93 miliar, dan perumahan sebesar Rp 80,8 miliar.

Salah satu proyek prioritas untuk memperlancar arus lalu lintas adalah pembangunan Jembatan Teluk yang dibiayai dengan dana Rp 729 miliar dengan panjang 1.348 meter dengan lebar 20 meter serta memiliki empat lajur.

"Jembatan Teluk Kendari mulai dibangun Agutus 2016 dan progres fisiknya sudah mencapai 13,16 persen dan ditargetkan berfungsi penuh pada 2018," kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, dalam keterangan pers Jumat (14/4).

Bendungan Ladongi, Kabupaten Kolaka. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
zoom-in-whitePerbesar
Bendungan Ladongi, Kabupaten Kolaka. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Jembatan Teluk Kendari dibangun untuk mendukung jaringan jalan nasional dengan menghubungkan Jalan Lingkar Kendari pada link Kota Lama dan Poasia. Dengan terhubungnya jalan lingkar ini diharapkan pembangunan di Kota Kendari semakin meningkat.

Jembatan Teluk Kendari juga direncanakan mendukung pengembangan pelabuhan Bungkutoko dan Kendari Newport yang ke depan akan menjadi pintu masuk bagi komoditi dari dan ke luar Kota Kendari maupun Provinsi Sulawesi Tenggara.

Selain itu, Kementerian PUPR saat ini tengah membangun Bendungan Ladongi yang merupakan salah satu bendungan baru yang dibangun pada Pemerintahan Joko Widodo. Bendungan yang masuk dalam proyek strategis nasional tersebut berdaya tampung 45,945 juta m3 dengan dana Rp 844 miliar.

Manfaat dari Bendungan Ladongi nantinya akan menjadi sumber air irigasi seluas 7.424 hektare, air baku sebesar 0,08 m3, potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) 1,15 megawatt (MW), dan mereduksi banjir hingga 142 m3/detik serta potensi wisata.

Tidak hanya Bendungan Ladongi, Kementerian PUPR juga berencana membangun Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe dengan daya tampung yang lebih besar lagi yakni 822,26 juta m3.

Pembangunan Di Sulawesi Tenggara (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan Di Sulawesi Tenggara (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Pendanaan Bendungan Pelosika saat ini tengah dijajaki untuk mendapatkan pinjaman dari China. Manfaatnya yakni akan menambah areal irigasi yang terairi hingga 16 ribu hektar, air baku 0,2 m3/detik, PLTA 10 MW dan mereduksi banjir hingga 10.359 m3/detik.

Kementerian PUPR juga akan membangun dua pengamanan pantai sebagai pengendali daya rusak air yang diakibatkan abrasi dan erosi pantai yang terjadi terus menerus. Pengamanan pantai juga dilakukan untuk melindungi pemukiman warga yang tinggal di sekitar pantai.

Proyek pengamanan pantai yang pertama adalah antai Pulau Buton dengan biaya Rp 4,31 miliar. Proyek tersebut telah mencapai progres fisik 49,31 persen. Sementara pengamanan pantai kedua adalah pantai Kota Raha yang pembangunannya sudah mencapai 17,46 persen dengan dana Rp 5,63 miliar.

Kementerian juga menata kawasan di Sulawesi Utara memalui program padat karya. Pemerintah akan melakukan pembinaan dan pengembangan kawasan permukiman melalui program KOTAKU di 129 kelurahan dan program SANIMAS di empat kawasan.

Sedangakan di sektor perumahan, akan disediakan rumah swadaya dengan target 3.000 unit, pembangunan rumah baru hingga 72 unit, pembangunan rumah khusus sebanyak 100 unit melalui program padat karya, dan pembangunan 57 unit rumah susun sebagai program besarnya.