kumparan
31 Oktober 2018 9:36

Jepang Siap Bantu Indonesia Selesaikan Masalah Sungai Citarum

Sungai Citarum Tercemar
Sungai Citarum Tercemar (Foto: ANTARA/M Agung Rajasa)
Pemerintah terus berupaya memperbaiki kondisi Sungai Citarum yang menjadi sumber air bagi 27,5 juta penduduk Jawa Barat dan DKI Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan pada beberapa kesempatan selalu menekankan bahwa masalah pencemaran di Sungai Citarum sudah berada pada level mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT
Dalam gelaran Our Ocean Conference 2018 di Bali, Luhut sempat mengadakan bilateral meeting dengan Wakil Menteri Urusan Lingkungan Hidup Global Kementerian Lingkungan Hidup Jepang Yasuo Takahashi. Menurut Luhut, dari pertemuan tersebut Jepang telah berkomitmen untuk membantu Indonesia dalam program normalisasi Sungai Citarum.
Our Ocean Conference 2018, Luhut Binsar Panjaitan, OOC
Penutupan Our Ocean Conference 2018 oleh Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Nusa Dua Bali, (30/10/2018). (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)
“Iya mereka (Jepang) akan terlibat juga di Sungai Citarum. Karena mereka melihat complete plan di situ,” ungkap Luhut kepada kumparan, Rabu (31/10).
Dalam pertemuan tersebut, Takahashi menyebut bahwa pihaknya telah mengutus salah satu staf mereka yang berkantor di Kementerian KLHK untuk memberikan asistensi di proyek pembersihan sungai Citarum. Sama seperti Indonesia, sebelumnya Jepang juga memiliki permasalahan pada aliran sungai di kota Kawasaki.
Takahashi menjelaskan, saat ini Jepang telah berhasil memulihkan kondisi sungai di Kota Kawasaki. Dengan pengalaman tersebut, Jepang berharap bisa membantu pemerintah Indonesia untuk memulihkan Sungai Citarum. Selain itu, Jepang juga mendukung TNI yang ikut serta dalam kegiatan normalisasi di Sungai Citarum.
ADVERTISEMENT
Terkait asistensi dari Jepang, Luhut mengatakan, hal itu sifatnya sementara. Sebab, pemerintah lebih menekankan agar industri di sepanjang Sungai Citarum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga tidak lagi mencemari sungai.
“Yang terpenting adalah bagaimana mendisiplinkan mereka, dan mendorong mereka untuk membangun IPAL sehingga tidak lagi mencemari sungai," tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan