Jerman Minta China Gunakan Pengaruhnya ke Iran untuk Bebaskan Selat Hormuz

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menghadiri konferensi pers di Berlin, Jerman, pada 3 Juli 2025. Foto: Nadja Wohlleben/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menghadiri konferensi pers di Berlin, Jerman, pada 3 Juli 2025. Foto: Nadja Wohlleben/REUTERS

Jerman meminta China menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk membantu membebaskan Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik yang mengganggu jalur pelayaran energi global.

Hal itu disampaikan dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Jerman di media sosial X pada Kamis (2/4), usai Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman, Johann Wadephul berkomunikasi via telepon dengan Menlu China, Wang Yi.

Berlin dan Beijing sama-sama menginginkan kebebasan navigasi di jalur strategis tersebut. Keduanya menegaskan bahwa tidak boleh ada negara yang mengontrol atau membatasi akses di jalur laut internasional.

“Jerman dan China sama-sama ingin memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan sepakat bahwa negara mana pun tidak boleh mengontrol jalur laut atau memungut biaya untuk melintas,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

X post embed

Selain itu, Jerman secara terbuka mendorong China untuk mengambil peran lebih besar dalam meredakan konflik, mengingat kedekatan hubungan Beijing dengan Teheran.

“China dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk mendorong solusi yang lewat negosiasi dan mengakhiri permusuhan terhadap negara-negara Teluk,” lanjut pernyataan tersebut.

Dorongan ini sejalan dengan sikap banyak negara yang menghindari pendekatan militer dalam membuka Selat Hormuz.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menegaskan bahwa operasi militer untuk membuka jalur tersebut bukan langkah realistis dan justru berisiko tinggi.

Di tengah ketegangan yang meningkat, Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial karena perannya sebagai jalur utama distribusi energi dunia. Gangguan di kawasan ini bahkan disebut dapat berdampak luas terhadap pasokan minyak global dan stabilitas ekonomi internasional.