Jika Sinar Api Tak Terlihat di Kawah Gunung, Erupsi Masih Bisa Terjadi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Gunung Agung, Selasa (3/7) dini hari dari desa Tulamben, Kubu, Karangasem, Bali. (Foto: Cisilia Agustina Siahaan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Gunung Agung, Selasa (3/7) dini hari dari desa Tulamben, Kubu, Karangasem, Bali. (Foto: Cisilia Agustina Siahaan/kumparan)

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) masih memantau aktivitas Gunung Agung pasca-erupsi. Berdasarkan pantauan tersebut, meski sempat terjadi erupsi disertai lava pijar pada Senin (2/7) malam, namun belum ada aktivitas tekanan yang besar di Gunung Agung.

"Erupsi strombolian (disertai lava pijar) tadi membuat amplitudo seismik naik. Namun secara singkat saja tapi setelah itu turun kembali," kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, Selasa (3/7) dini hari.

Ia menambahkan penyebab erupsi disertai lava pijar yang terjadi tersebut disebabkan oleh pengerasan lava di permukaan gunung. Hal tersebut, kata dia, merupakan hal yang lazim terjadi karena lava yang berada di permukaan cenderung mengalami penurunan temperatur.

"Hal ini juga yang menyebabkan laju efusi (aliran) lava ke permukaan melambat. Intinya terjadi penyumbatan aliran fluida magma (gas dan liquid) ke permukaan," paparnya.

Lava yang mengeras di permukaan tersebut kemudian menghambat aliran magma yang akan naik ke kawah, lalu terakumulasi. Hingga, pada titik tertentu lapisan lava yang mengeras tidak mampu menahan desakan magma dan akhirnya terjadi erupsi disertai lava pijar.

"Kalau di atas kawah masih terlihat sinar api, maka indikasi lava masih panas dan encer sehingga gas dapat keluar dengan mudah. Tapi kalau di atas kawah sinar api tidak teramati seperti tadi sebelum erupsi, maka dapat berpotensi untuk terjadi kembali erupsi strombolian," ujarnya.

Pantauan kumparan, hingga pukul 02.00 Wita di kawasan Tulamben, Kubu, Karangasem, pijar merah di puncak kawah sudah tidak terlihat meski masih ada embusan asap di puncah kawah. Sementara, sisa lontaran pijar api masih tampak membakar beberapa titik hutan.

Sementara berdasarkan pantauan dari CCTV di Batulompeh, Devy mengungkapkan Gunung Agung masih menunjukkan adanya efusi atau mengeluarkan material berupa lava.

"Di CCTV Batulompeh masih terang, masih efusi," pungkasnya.

Hingga saat ini belum ada peningkatan status gunung Agung. Status masih pada level III atau SIAGA dan warga tetap waspada dan dilarang beraktivitas dalam radius 4 km.