Joe Biden Kesal Nasihatnya Tak Didengar soal Rafah, Sebut Netanyahu 'Brengsek'

13 Februari 2024 12:42 WIB
·
waktu baca 3 menit
Presiden AS Joe Biden berbicara tentang penciptaan pekerjaan manufaktur baru di Washington Hilton di Washington, DC, 25 April 2023. Foto: Jim Watson / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Joe Biden berbicara tentang penciptaan pekerjaan manufaktur baru di Washington Hilton di Washington, DC, 25 April 2023. Foto: Jim Watson / AFP
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Rasa frustrasi Gedung Putih kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah agresi di Jalur Gaza yang telah menewaskan 28 ribu lebih orang Palestina semakin meningkat.
ADVERTISEMENT
Presiden Joe Biden dilaporkan telah melampiaskan kekesalannya di sejumlah percakapan pribadi setidaknya dalam tiga kejadian terpisah baru-baru ini — termasuk di hadapan para donatur kampanye Partai Demokratnya.
Dikutip dari NBC News, laporan itu dikonfirmasi lima sumber yang mendengar langsung komentar Biden tetapi meminta untuk tidak disebutkan identitasnya.
Peta Gaza - Rafah Foto: google.maps
Dijelaskan, Biden frustrasi gara-gara tidak mampu membujuk Israel supaya mengubah kebijakan perangnya di Jalur Gaza dan melindungi warga sipil Palestina. Pemimpin berusia 80 tahun itu juga menyebut Netanyahu sebagai penghalang utama diadakannya gencatan senjata di Gaza.
"Biden mengatakan ia berusaha membuat Israel menyetujui gencatan senjata, namun Netanyahu memberinya kesulitan dan tidak mungkin untuk diajak berunding," ujar sumber-sumber tersebut.
Menurut mereka, setidaknya dalam tiga kejadian baru-baru ini, Biden menyebut Netanyahu sebagai 'brengsek'. "Dia merasa ini sudah cukup, ini harus dihentikan," kata salah seorang sumber.
Kepala oposisi Benjamin Netanyahu berbicara setelah pemungutan suara untuk koalisi baru di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, Minggu (13/6). Foto: Ronen Zvulun/REUTERS
Biden dilaporkan telah berusaha membujuk Israel untuk menyepakati gencatan senjata dengan Hamas — tetapi Biden justru merasa seperti 'di neraka' karena dibuat kesal oleh Netanyahu.
ADVERTISEMENT
Biden, sambung sumber-sumber itu, bingung dengan penolakan dari Netanyahu terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah ditawarkan Biden. Padahal, menurut Biden, kesepakatan ini menguntungkan sisi Israel, seperti kemungkinan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi sebagai imbalan atas berdirinya negara Palestina.
Adapun kekesalan Biden tampak semakin memuncak, usai nasihatnya soal peluncuran serangan Israel ke Rafah tidak diindahkan Netanyahu belakangan ini. Hal itu tampak saat Biden menggelar konferensi pers dengan Raja Yordania Abdullah di Gedung Putih, pada Senin (12/2).
"Selama sebulan terakhir, saya telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Netanyahu, serta para pemimpin Mesir dan Qatar, untuk mendorong hal ini. Elemen kunci dari kesepakatan sudah ada di atas meja," ungkap Biden, sebagaimana dikutip dari situs web resmi Gedung Putih.
Joe Biden saat bertemu Benjamin Netanyahu di kantor perdana menteri di Yerusalem pada 9 Maret 2016. Foto: Debbie Hill/ POOL/ AFP
"Masih ada kesenjangan yang tersisa, tetapi saya telah mendorong para pemimpin Israel, untuk terus bekerja mencapai kesepakatan. Amerika Serikat akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya," sambung dia.
ADVERTISEMENT
Biden kemudian menyinggung soal invasi darat Israel ke Rafah — yang didasari pada klaim tanpa bukti, bahwa Hamas menempatkan markas-markas bawah tanahnya di bagian selatan Gaza itu.
"Seperti yang saya katakan kemarin, operasi militer mereka [Israel] di Rafah tidak boleh dilanjutkan tanpa rencana yang kredibel untuk memastikan keamanan dan dukungan bagi lebih dari satu juta orang yang berlindung di sana," tegas Biden.
Adapun Rafah saat ini telah dijadikan kamp pengungsian padat bagi setengah dari total populasi warga Gaza. Diperkirakan sebanyak 1,3 juta warga berlindung di Rafah, mereka menggunakan tenda-tenda dari plastik yang tidak layak lantaran tidak lagi punya tempat tinggal.
Presiden AS Joe Biden menyampaikan pidato, saat Raja Abdullah dari Yordania berdiri, usai pertemuan mereka di Gedung Putih di Washington, AS, 12 Februari 2024. Foto: REUTERS/Kevin Lamarque
"Banyak orang di sana telah mengungsi beberapa kali, melarikan diri dari kekerasan di utara, dan sekarang mereka memadati Rafah — terpapar dan rentan. Mereka perlu dilindungi," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari fakta bahwa AS dan Israel merupakan sekutu sejati — tapi Biden kembali menegaskan pentingnya melindungi warga sipil Palestina dan mendirikan negara berdaulat Palestina, sebagai bentuk pengimplementasian two-state solution.
"Dan kami juga sudah jelas sejak awal: Kami menentang pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza," tutup Biden.