Joged Bumbung: Terkikis Gerak Erotis

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Joged Bumbung dengan Pengibing (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Joged Bumbung dengan Pengibing (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)

Pamor seni Joged Bumbung kembali terguncang. Sebuah acara amal Trail Adventure di Desa Les Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, menuai protes akibat aksi erotis di tengah pertunjukan Joged Bumbung (20/11).

Seorang penari Bumbung dengan kain bercorak merah dan emas terlihat sedang menari lincah dengan penonton (pengibing) dengan menampilkan adegan tak senonoh. Penari dan pengibing terekam menggoyangkan pinggul ke depan dan belakang secara berdempetan. Gerakan yang tampak seperti adegan pelampiasan birahi orang dewasa.

Padahal, penonton yang berada di lokasi tersebut juga ada remaja dan anak-anak. Belum lagi, tujuan Joged Bumbung itu adalah untuk penggalangan dana bagi korban bencana Gunung Agung.

Adegan Joged Bumbung itu direkam dan dibagikan hingga 17 ribu kali oleh akun facebook Arta Wan. Selain mendapat kecaman dan komentar pedas banyak pihak, aksi ini pun dilaporkan ke pihak berwajib oleh Yayasan Jaringan Hindu Nusantara (YJHN). Tarian yang dipertontonkan itu dianggap melenceng dari pakem tradisi dan ruh Joged Bumbung.

Meski bukan pertama tarian ini tampil secara erotis --dan disebarluaskan melalui media sosial, namun kecaman hingga rasa miris kian terkikisnya tradisi dalam ruh Joged Bumbung kemudian timbul.

Lalu, bagaimanakah sebenarnya pakem tradisi dalam Joged Bumbung?

Seni Joged Bumbung sejatinya mempunyai pakem tradisi yang luhur, yaitu tunduk pada nilai-nilai kesopanan. Kekayaan nilai-nilai yang akhirnya juga menjadikan tarian ini berhasil masuk ke dalam Warisan Budaya Tak Benda Dunia hasil sidang UNESCO di Namibia, Afrika pada 2 Desember 2015.

Terdapat sembilan tari tradisi Bali yang diakui UNESCO, di antaranya Tari Barong ket, Tari Legong Keraton, Tari Rejang, Tari Sanghyang Dedari, Tari Baris Upacara, Topeng Sidhakarya, Drama Tari Gambuh, Drama Tari Wayang Wong, dan Tari Joged Bumbung.

Joged Bumbung dengan Pengibing (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Joged Bumbung dengan Pengibing (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)

Asal Joged Bumbung

Joged Bumbung secara terminologi kata terdiri dari joged dan bumbung. Joged berarti gerak, dinamis, dan menari. Sementara Bumbung adalah kata yang diambil dari bahasa daerah berarti bambu.

Dalam konteks seni, Joged Bumbung merupakan bentuk kesenian yang memadukan antara seni tabuh dengan tarian. Perpaduan dua unsur itu memungkinkan penari dan pengibing turut hanyut dalam syahdunya tarian dan tabuhan gamelan.

Joged Bumbung mengandung tiga unsur yaitu etika, logika, dan estetika. Etika sebagai perwujudan dari nilai-nilai kesopanan, logika berkaitan erat dengan gerak, dan teknik tarian serta estetika yang menampilkan keindahan tarian.

Tarian ini pertama kali dipopulerkan oleh para petani yang melepas lelah di tengah sawah dengan memainkan rindik sementara sebagian lainnya menari. Dipercaya bahwa Joged Bumbung berasal dari Desa Kalopaksa, Seririt, Buleleng sekitar 1940-an.

Gerak Joged Bumbung bersifat lincah, bebas, dan dinamis mulai dari gerak tangan hingga mata penari. Joged Bumbung banyak dipentaskan pada musim sehabis panen, hari raya, dan hari-hari penting masyarakat Bali lainnya. Seni tari ini paling populer di wilayah Bali Utara dan Bali Barat.

Seni Joged Bumbung tak bisa terlepas dari seni tari Bali yang memegang arti penting bagi kehidupan masyarakatnya baik dalam konteks ritual maupun relasi sosial. Seiring dinamika  kehidupan yang berkembang, seni tari pun mengalami perubahan dalam berbagai aspek, seperti bentuk, fungsi, maupun maknanya.

Seni tari di Bali dapat digolongkan menjadi tiga yaitu Wali, Bebali, dan Balih-Balihan. Tari-tari  Wali dianggap sakral, berfungsi sebagai sarana upacara peribadatan seperti Tari Rejang dan Tari Sanghyang. Sementara tarian Bebali berfungsi sebagai penunjang jalannya upacara dalam pementasan yang memakai lakon seperti pada Tari Topeng. Terakhir, tarian Balih-Balihan yaitu tarian yang hanya diperuntukkan sebagai hiburan semata seperti Tari Joged Bumbung.

Pada buku Dance and Drama in Bali disebutkan, tarian joged adalah satu-satunya tarian yang dikategorikan sebagai tarian Bali yang bersifat sosial. Tarian ini mencakup Gandrung, Leko, Oleg, dan Andir yang ditampilkan dengan solo dalam gaya legong.

video youtube embed

Tari Joged Bumbung menjadi tari pergaulan Bali yang dipentaskan pada acara-acara sosial kemasyarakatan. Tarian ini dipentaskan oleh penari perempuan yang kemudian mengajak para penonton (pengibing) untuk menari bersama.

Paibing-ibingan, itulah yang menjadi ciri khas Joged Bumbung, dengan memberi ruang bagi penari dan penonton untuk menari bersama. Tak ketinggalan aksesoris kipas yang  menambah semarak Joged Bumbung.

Selain Joged Bumbung,ada juga Joged Pingitan yang berawal dari tari pergaulan di lingkungan istana yang sekarang disakralkan. Tari joged lainnya adalah Joged Adar dan Joged Andir sebagai tari pergaulan yang dikaitkan dengan ritual keagamaan. Adapula Joged Gandrung yang dulu banyak ditarikan oleh laki-laki namun kini beralih ditarikan oleh perempuan.

Joged Bumbung diiringi oleh instrumen gamelan Bali. Instrumen-instrumen pada gamelan pengiring Joged Bumbung di antaranya 6 atau 8 buah gerantang, 2 atau 4 buah suling, sebuah kendang gupekan, sebuah jegoan, setunguh ceng-ceng, dan sebuah gong pulu.

Tari ini juga diiringin dengan gamelan bumbung bambu yang tidak tentu larasnya. Jumlah bambu berkisar lima sampai enam nada yang dimainkan dengan memukul-mukulkan pangkalnya pada batang kayu ataupun pada tanah.

Alhasil musik pengiring menjadi lebih dinamis dan menuntut kelincahan gerak para penari.

Joged Bumbung dengan Pengibing (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Joged Bumbung dengan Pengibing (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)

Terkikis Erotis

Dimulai dari Desa Kalopaksa, kesenian Joged Bumbung lantas berkembang ke berbagai penjuru desa di Kabupaten Buleleng hingga menyebar di seluruh provinsi Bali. Kesenian ini pun membentuk sekaa-sekaa (kelompok) joged.

Persaingan antar sekaa-sekaa memacu para kelompok tari terus berinovasi menciptakan kreasi baru Joged Bumbung agar kelompoknya tetap eksis dan diminati masyarakat.

Seiring berkembangnya ragam versi kreasi baru, Joged Bumbung yang mulanya memiliki makna tarian pergaulan dan merakyat itu, perlahan semakin tidak terkontrol dan keluar dari pakemnya.

Entah sejak kapan, wajah Joged Bumbung mulai berubah. Tarian ini kemudian memiliki citra buruk yang kemudian diidentikkan dengan tarian erotis dan porno.

Joged Bumbung mulanya sarat akan unsur-unsur gerak tari Bali klasik seperti ngleyog, ngeleyer, dan gelatik mapah. Pakem yang ditetapkan dahulu adalah goyangan pinggul melenggok hanya ke samping kanan dan kiri, kini kreasi banyak diciptakan dengan gerakan pinggul ke depan dan belakang. Bahkan dalam beberapa penampilan yang banyak tersebar di jagat maya, Joged Bumbung secara vulgar menampilkan gerakan layaknya pasangan yang sedang ‘’bercinta’’.

Untuk pakem busana yang dipakai penari terdiri dari kain, sabuk, baju kebaya, oncer, ikat pinggang, dan gelungan joged. Sedangkan bagi pengibing, yang berasal dari kalangan penonton bebas, berkalungkan selendang penari. Pengibing dapat menari secara bergilir satu per satu sesuai ajakan para penari.

Namun dalam perkembangannya, busana penari yang dulu menutup bagian kaki dan paha dengan kain, kini sengaja ditampilkan lebih terbuka. Lekuk tubuh pun tidak segan ditunjukkan dengan serat yang lebih tipis.

Persoalan di tengah masyarakat pun tidak kalah serius untuk diperhatikan. Para pengibing seringkali berani menampilkan adegan tari yang vulgar, meskipun tahu penonton bukan hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak di bawah umur.

Sekaa Joged Bumbung (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Sekaa Joged Bumbung (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)

Nah, kalau begini, apa yang paling bermasalah? Joged Bumbung yang kian erotis atau pikiran dan tingkah laku penonton sekaligus pengibing yang ngeres?

Menganggapi itu, Pemerintah Provinsi dan Daerah Bali dalam situs kemdikbud.go.id turut angkat bicara dan menyampaikan keprihatinannya akan kemunculan Joged Bumbung yang dinilai erotis. Pemprov dan Pemda Bali kemudian melakukan pembinaan menyasar para sekaa Joged Bumbung di seluruh Bali, khususnya di Buleleng.

Hal itu, tak lain untuk mengingatkan para seniman agar tetap mempertahankan pakem asli kesenian Joged Bumbung yang mengikuti etika dan norma kesopanan masyarakat.

Selain soal pakem tarian, tim pembina mengimbau juga agar masyarakat hanya mementaskan kesenian Joged Bumbung sesuai pakem asli. Lebih lanjut, tim pembina memasukkan larangan mementaskan kesenian joged porno dalam pararem awig-awig --turunan dari instrumen hukum adat di desa di Bali.

Nah, mau turut serta mengembalikan kemurnian Joged Bumbung sebagai kekayaan budaya Indonesia? Yuk, mulai dengan tidak ikut menyebarkan konten erotis di media sosial.