Jogja Memanggil Gelar Ruwat 'Ruweting Panguoso Durno' di Titik Nol Kilometer
·waktu baca 2 menit

Masyarakat hingga mahasiswa yang tergabung dalam massa Jogja Memanggil menggelar aksi Ruwat Ruweting Panguoso Durno di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Selasa (11/3).
Sebelumnya massa aksi long march dari tempat parkir Abu Bakar Ali (ABA) menyusuri Jalan Malioboro hingga ke Titik Nol Kilometer.
Di Titik Nol Kilometer, massa aksi membentuk formasi melingkar. Mereka kemudian menabur bunga dan membakar dupa.
"Kebijakan (pemerintah) tidak pro terhadap rakyat teman-teman. Di mana kebijakan terkait efisiensi, pemangkasan anggaran pendidikan, generasi seakan-akan belum bisa merengkuh pendidikan kawan-kawan," kata salah satu orator dari atas mobil komando.
Orator tersebut juga menyoroti banyaknya PHK yang terjadi belakangan ini. Dia menilai pemerintah tak kunjung bisa menanggulangi hal-hal seperti itu.
Dalam rilis tertulis yang dibagikan massa aksi dijelaskan, Ruwat Ruweting panguoso Durno adalah menggabungkan tradisi ruwatan dengan karakter pewayangan.
"Ungkapan ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesucian diri dan kepemimpinan, serta upaya untuk memperbaiki keadaan yang buruk," tulis rilis Jogja Memanggil.
Ruwatan juga bisa dimaknai sebagai pembersihan dan pembebasan dari bahaya. Dalam konteks ini, menurut Jogja Memanggil rakyat perlu membersihkan dan membebaskan diri dari tingkah laku rezim.
"Rezim yang di dalam tempurungnya hanya ada pikiran memperkaya diri, koruptif, dan gemar mencelakakan rakyatnya," jelasnya.
Salah satu kebijakan yang mencelakai rakyat menurut mereka adalah BPI Danantara sebagai badan investasi BUMN. Mereka menilai uang rakyat dipertahankan bagai di meja perjudian oleh penguasa.
"Ketika BPI Danantara gagal, maka akan mengakibatkan ekonomi nasional ambruk secara seketika karena uang simpanan rakyat akan raib secara tiba-tiba," katanya.
