Johan Budi: Jubir Jokowi Harus Ditertibkan, Jangan Semua Ngomong

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota Komisi III DPR F-PDIP Johan Budi di Istana, Rabu (1/12). Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Komisi III DPR F-PDIP Johan Budi di Istana, Rabu (1/12). Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan

Sudah sebulan lebih posisi juru bicara (jubir) Presiden Jokowi kosong usai Fadjroel Rachman dilantik menjadi Duta Besar untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan.

Eks Jubir Jokowi yang kini menjabat anggota Komisi III DPR RI, Johan Budi, berpendapat wakil-wakil Jokowi di Istana harus ditertibkan. Ia menilai seharusnya hanya satu orang yang betul-betul bertugas mewakili pernyataan presiden hingga Jokowi memutuskan menunjuk jubir baru.

“Saya enggak tahu apa yang ada dalam hati Pak Jokowi. Kalau jubir menyuarakan suara Pak Jokowi itu kan sudah terjadi. Sekarang apakah itu lewat KSP? Saya menyebut ada tiga penggawa. Seskab, Mensesneg, sama KSP,” kata Johan Budi di Gedung DPR, Senayan, Senin (6/12).

“Bukan anak buahnya, tapi ketiga ini sering bersuara mewakili Pak Jokowi. Selain tiga punggawa ini ada staf khusus, tenaga ahli dan yang deputi. Ini menurut saya harus ditertibkan, jangan semua ngomong. Menurut saya harus satu pintu yang mewakili Pak Jokowi,” imbuhnya.

Johan menyoroti terlalu banyak pihak yang berbicara di Istana dan seolah menjadi jubir Jokowi, bahkan sejak Fadjroel masih menjabat. Oleh sebab itu, ia menekankan seharusnya hanya ada satu sosok jubir bagi Jokowi.

Presiden Jokowi menghadiri Kongres IV GMNI secara virtual. Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

“Staf khusus yang lain juga ngomong kan. Mewakili siapa? Ya pasti Pak Jokowi. Nah kalau posisi jubir orang yang menyuarakan Pak Jokowi sekarang banyak, makanya stafsus khusus menteri pun juga bicara mewakili Pak Jokowi. Deputi di KSP juga mewakili Pak Jokowi, mewakili presiden kan sudah terlalu banyak,” ujar Johan Budi.

Ia juga berpendapat seharusnya ada perbedaan antara jubir Jokowi dan jubir pemerintah. Jubir juga haruslah sosok yang bisa mewakili urusan-urusan pribadi Jokowi.

“Jadi juru bicara Presiden dan pemerintah itu menurut saya berbeda. Jadi jubir Pak Jokowi mewakili Pak Jokowi as a president juga sebagai pribadi,” terang dia.

“Misalnya Pak Jokowi ditanyain mengenai pergi ke mana, kan enggak ada kaitannya dengan sama pemerintahan. Itu jubir yang jawab, Pak Jokowi ada ini misalnya. Tapi kalau kebijakan pemerintah bisa siapa aja ngomong mewakili pemerintah,” imbuhnya.

Meski demikian, kebutuhan jubir tetap bergantung kepada Jokowi. Ia hanya menekankan siapa pun yang dipilih harus betul-betul memahami Jokowi.

“Definisi jubir itu kan harus yang paham betul Pak Jokowi karena dia menjurubicarai Pak Jokowi atau Presiden. Sekarang tinggal Pak Presiden, apa yang dilakukan internal Istana itu sudah mewakili belum kepentingan Pak Jokowi. Kalau belum ya masih memerlukan, itu kan tergantung Pak Jokowi,” tutur Johan Budi.

“Poin saya jangan semua ngomong. Iya kalau sama, kalau enggak? Apa yang terjadi? Publik bingung. Staf khusus Pak Jokowi kan enggak hanya bidang komunikasi, ada yang milenial, ada yang ekonomi, macam-macam itu juga berbicara. Saya pernah lihat pas talkshow itu mewakili siapa? Pak Jokowi gitu. Lho, sekarang definisi jubir apa?” tandas dia.

Sebelumnya, Johan Budi mengunjungi Istana Negara, Jakarta, dan berbicara empat mata dengan Jokowi pada Rabu (1/12) lalu. Namun, Johan mengaku hanya berkunjung untuk silaturahmi dan menepis bahwa dirinya diminta kembali menjadi jubir Jokowi.