Jokowi: Beda Pilihan Biasa, Seganteng Apa Pun Kalau Rakyat Enggak Senang Gimana?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato saat ground breaking kompleks perkantoran Bank Indonesia di Ibu Kota Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (2/11/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato saat ground breaking kompleks perkantoran Bank Indonesia di Ibu Kota Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (2/11/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/Antara Foto

Presiden Jokowi memastikan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus berjalan. Ia mengatakan, keberlanjutan pembangunan IKN sudah dijamin lewat UU IKN.

"Lah, ini undang-undangnya sudah ada. Undang-undangnya didukung 93 persen fraksi partai-partai di DPR. Apa lagi? Takut apa lagi? Takut Pemilu?" kata Jokowi di Kompas 100 CEO Forum di kawasan IKN, Kalimantan Timur, Kamis (2/11).

Saat menyinggung soal Pemilu, Jokowi mengatakan Indonesia sudah menghadapi empat kali Pemilu langsung sejak 2004, 2009, 2014, dan 2019. Menurutnya, perbedaan memilih adalah hal yang biasa.

"Kita ini saya lihat sudah semakin dewasa dalam berdemokrasi. Perbedaan itu biasa. Beda pilihan biasa gitu, loh. Yang milih semuanya, kan, rakyat. Kedaulatan ada di tangan rakyat," ungkapnya.

"Bapak seganteng apa pun kalau rakyat enggak seneng gimana? Bapak senengnya yang ndeso-ndeso kayak saya ini," lanjutnya.

Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo bersama Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) sebagai tanda dimulainya pembangunan kantor pusat Bank Indonesia di IKN, pada Kamis (2/11/2023). Foto: Bank Indonesia

Sehingga, Jokowi memastikan beda pilihan dan persaingan dalam Pemilu adalah hal yang biasa. Jokowi pun meminta para pengusaha untuk tidak usah belajar jadi politisi atau mengomentari politik.

"Enggak usahlah belajar jadi politikus, komentari, malah bisa keliru. Yang paling penting kita berharap semua setelah bertanding kompak lagi, bersatu lagi untuk negara dan bangsa yang kita cintai," pungkasnya.