Jokowi dan Luhut Klaim Corona dan BOR Turun, Ini Data Faktualnya

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
25
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemakaman COVID-19 di Surabaya. Foto: Instagram/@dishubsurabaya
zoom-in-whitePerbesar
Pemakaman COVID-19 di Surabaya. Foto: Instagram/@dishubsurabaya

Masa PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 diperpanjang hingga 25 Juli mendatang. Presiden Jokowi juga menyebut bakal melonggarkan pengetatan aktivitas masyarakat pada 26 Juli jika kasus corona menurun.

Lantas, bagaimana hasil pengetatan aktivitas masyarakat selama 18 hari saat kebijakan PPKM Darurat tersebut?

Untuk menjawabnya, kita perlu menguji dua pernyataan tokoh di bawah ini:

Presiden Jokowi sebut kasus corona dan BOR RS mulai turun

Koordinator PPKM Darurat Luhut Binsar sebut kasus mulai flattening

Berikut ini merupakan analisisnya:

Kasus Baru Masih Tinggi

Pertumbuhan kasus baru corona harian dari tanggal 3 hingga 15 Juli cenderung naik. Puncaknya, pada 15 Juli sempat menyentuh rekor tertinggi selama pandemi di Indonesia, yakni 56.757 kasus positif.

Setelah mencapai puncak pada 15 Juli, kasus corona tampak mengalami penurunan. Pada 29 Juli. misalnya, kasus positif ada di angka 34.257 sehari.

embed from external kumparan

Meski demikian, kasus corona harian tak konsisten turun. Pada 20 Juli atau hari terakhir PPKM Darurat, kasus harian justru naik lagi di angka 38.325.

Koordinator PPKM Darurat Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya bahkan manargetkan PPKM Darurat dapat menekan kasus baru di angka 10 ribu. Namun, target tersebut belum terealisasi

Testing Mulai Kendur

Pada masa PPKM Darurat, tes corona individu digenjot secara gencar. Data menunjukkan bahwa selama pandemi, baru pada saat masa PPKM darurat, testing corona hampir setiap hari menyentuh angka 100 ribu.

Meski demikian, testing mulai kendur sejak 18 Juli 2021. Saat itu, testing corona hanya ada di angka 138 ribu. Penurunan testing itu pun berlanjut hingga 20 Juli 2021. Testing yg kendur itu pula yang menyebabkan kasus corona harian menurun.

embed from external kumparan

Selain itu, testing tersebut juga belum sesuai target pemerintah. Pada 5 Juli lalu, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkap ganasnya corona varian delta. Karena itulah, tes mesti digenjot hingga 400 ribu orang dalam sehari.

"Kita buat kebijakan PPKM, di testing kita akan naikkan secara agresif dari 100 ribu menjadi 400 ribu per hari dengan kondisi seperti ini," kata Menkes dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Senin (5/7).

Positivity Rate Tinggi

Di masa PPKM Darurat, positivity rate harian ada di atas 20 persen, bahkan mencapai 33 persen. Ini berarti setidaknya ada 3 orang positif corona dari 10 orang yang dites setiap harinya.

embed from external kumparan

Menurut standar WHO, positivity rate idealnya berada di angka aman apabila kurang dari atau sama dengan 5 persen.

Mobilitas turun, tetapi Belum Mencapai Target

Penularan corona erat kaitannya dengan mobilitas. Kami pun menganalisis data mobilitas melalui Google Mobility Report.

Di situ, Google mengklasifikasikan mobilitas masyarakat ke enam aspek destinasi. Yakni, Retail & Rekreasi, Toko Bahan Makanan & Apotek, Taman, Pusat Transportasi Umum, Tempat Kerja, dan Area Permukiman.

embed from external kumparan

Hasil perhitungan di sini merujuk pada selisih data penurunan mobilitas pada 16 Juni 2021 (PPKM Darurat) terhadap data 25 Juni 2021. Perbandingan diambil pada hari yang sama.

Secara umum penurunan mobilitas ini masih jauh dari target pemerintah, yaitu 50 persen.

Kasus Kematian Terus Naik

Pada masa PPKM Darurat, Kemenkes mencatatkan rekor baru kematian akibat corona. Pada masa ini pula kasus kematian corona dalam sehari tembus 1.000. Puncaknya terjadi pada 19 Juli sebesar 1.338 kematian.

Situasi ini sudah diprediksi oleh Menko Marves sekaligus Komandan PPKM Darurat Luhut Pandjaitan pada 3 Juli. Ia menyebut dalam 2 minggu pertama PPKM Darurat merupakan masa kritis.

embed from external kumparan

Terbukti, kasus kematian corona di masa PPKM darurat naik trennya. Dari 493 kasus kematian pada 3 Juli, jadi 1.280 kematian pada 20 Juli.

"Saya emosi. Kenapa? Saya belum bisa mengurangi banyak orang meninggal (karena corona), karena keadaan ini buat saya tanggung jawab moral dan berat buat saya," tutur Luhut dalam wawancara bersama Kompas TV, Selasa (20/7) malam.

BOR Nasional Tak Turun Siginfikan

Kesembuhan pasien corona erat kaitannya dengan fasilitas kesehatan yang memadai. Salah satunya adalah ketersediaan Bed Occupancy Rate yang atau ketersediaan tempat tidur yang cukup untuk semua orang.

Menilik data Kemenkes, persentase keterisian tempat tidur COVID-19 pada periode 3-13 Juni BOR RS COVID-19 naik dari 75 persen ke 77 persen. Lalu penurunan itu mentok di angka 74 persen pada 20 Juli 2021. Artinya, penurunan BOR ada di angka 1 persen sejak PPKM darurat berlaku.

embed from external kumparan

Selain itu, persentase dalam grafik di atas adalah angka rata-rata nasional. Tiap RS memiliki angka BOR-nya masing-masing. Di Jakarta, akan sulit mencari RS yang siap menampung pasien COVID-19.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahkan menyebut, banyaknya pasien COVIOD-19 menciptakan anteran panjang. Hal itu ia ungkapkan pada 19 Juli lalu.

"Jadi yang mengantre, yang berada di IGD, menunggu bisa masuk kamar itu sekitar 1.900 orang. Lalu yang mengantre untuk bisa masuk IGD ada di lorong-lorong Puskesmas di rumah-rumah itu bisa sampai sekitar 1.400 orang, karena keterbatasan kapasitas rumah sakit," ucap Anies di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Senin (19/7).

Vaksinasi Corona Belum Capai Target

Meroketnya kasus baru atau pun kematian corona di Indonesia pada dasarnya dapat ditekan melalui vaksinasi. Pada Juni 2021 lalu, Presiden Jokowi pun menaruh harap agar bisa rutin memvaksin 1 juta dosis dalam sehari.

embed from external kumparan

Meski begitu, selama tanggal 1 hingga 20 Juli yang sebagian periode tersebut masuk di masa PPKM darurat, target itu tidak rutin dicapai. Selama 20 hari tersebut, hanya 5 hari vaksinasi corona tembus sejuta dosis per hari. Artinya realisasi baru 25 persen dari harapan Jokowi.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang kami lakukan, sejumlah indikator penanganan corona selama PPKM belum sesuai dengan target yang dibuat oleh pemerintah.