News
·
6 Agustus 2019 11:08

Jokowi di Depan Kapolri-TNI: Copot yang Tak Bisa Atasi Kebakaran Hutan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Jokowi di Depan Kapolri-TNI: Copot yang Tak Bisa Atasi Kebakaran Hutan (121810)
Presiden Jokowi di acara pengarahan peserta Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Istana Negara. Foto: Fahrian Saleh/kumparan
Presiden Jokowi memberikan arahan pada peserta Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (6/8). Dalam pengarahan itu, juga turut dihadiri oleh Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian hingga Menkopolhukam Wiranto.
ADVERTISEMENT
Di hadapan mereka, Jokowi mengingatkan aturan main terkait karhutla pada tahun 2015 masih berlaku. Yakni, mencopot Kapolda, Kapolres, Danrem, hingga Pangdam yang tak bisa mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Aturan main kita masih sama. Saya ingatkan pada Kapolda, Kapolres. Aturan main 2015 masih berlaku. Saya kemarin sudah telepon Panglima TNI, saya minta copot yang tidak bisa mengatasi. Saya telepon lagi 4 hari yang lalu, dicopot yang tidak bisa mengatasi kebakaran hutan dan lahan," kata Jokowi di lokasi.
"Ada api sekecil apapun, selesaikan, Danrem, Pangdam, aturan mainnya tetap jangan meremehkan adanya hot spot. Jika api muncul, langsung padamkan," lanjutnya.
Jokowi di Depan Kapolri-TNI: Copot yang Tak Bisa Atasi Kebakaran Hutan (121811)
Suasana acara pengarahan peserta Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Istana Negara. Foto: Fahrian Saleh/kumparan
Sementara, untuk pemerintah daerah, Jokowi meminta agar ada koordinasi dalam penanganan dan pencegahan karhutla.
ADVERTISEMENT
"Saya minta gubernur, kodam, kapolda kerja berkolaborasi kerja sama dibantu pemerintah pusat, Panglima TNI, Kapolri, BNPB, usahakan, jangan sampai kejadian baru kita bergerak," jelasnya.
"Api sekecil apa pun segera padamkan. Kerugian gede sekali kalau kita hitung," imbuhnya.
Dalam pengarahan itu, Jokowi menyinggung karhutla tahun 2015 yang menimbulkan kerugian besar. Meski di tahun ini terjadi penurunan dibanding 2015, namun, tetap mengalami peningkatan kerugian dibanding 2018.
"Kebakaran hutan hampir di semua provinsi. Saya ingat kerugian mencapai Rp 221 triliun di 2015. Dengan lahan terbakar seingat saya 2,6 juta hektare. Oleh sebab itu peristiwa itu jangan sampai terjadi lagi," jelasnya.
"Dibandingkan 2015, tahun ini turun 81 persen, tapi kalau dibandingkan tahun 2018, tahun ini naik lagi. Harusnya ini tiap tahun turun, menghilangkan total," lanjutnya.
ADVERTISEMENT