Jokowi di Kongres GMNI: Untuk Dahului Kereta Lain, Tak Mungkin Pakai Rel Sama

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Jokowi hadiri Konferensi Khusus Memperingati 30 Tahun Hub Asean-RRT secara virtual di Istana Kepresidenan Jakarta. Foto: Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Jokowi hadiri Konferensi Khusus Memperingati 30 Tahun Hub Asean-RRT secara virtual di Istana Kepresidenan Jakarta. Foto: Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Jokowi hadir secara virtual dalam Kongres IV Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kongres digelar di Kota Bandung, Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Jokowi menjelaskan dalam dunia yang semakin terbuka, dengan interaksi antara negara yang semakin tinggi, gelombang globalisasi tidak terhindarkan lagi.

Bukan hanya mobilitas fisik antarnegara yang semakin tinggi, bukan hanya mobilitas barang dan uang yang semakin mudah, tetapi mobilitas gagasan dan mobilitas pengetahuan juga semakin tinggi melalui ranah ranah digital.

“Konsekuensinya globalisasi melahirkan dunia yang hiperkompetisi, dunia yang diwarnai oleh kompetisi yang super ketat,” kata Jokowi sebelum membuka Kongres GMNI, Senin (6/12).

Atas dasar itu, Jokowi menekankan satu pilar utama dalam menjaga kedaulatan adalah memenangkan kompetisi. Ia menegaskan Indonesia harus memenangkan kompetisi di dalam negeri, harus memenangkan kompetisi di pasar global, serta harus lebih unggul dari negara lain.

“Kita harus mampu mendahului negara lain dalam dunia yang semakin kompetitif sekarang ini,” tegasnya.

kumparan post embed

Bahkan, Jokowi mengibaratkan situasi ini seperti kereta. Menurutnya untuk mendahului kereta yang lain, tidak mungkin menggunakan rel yang sama. Untuk mendahului negara yang lain, tidaklah mungkin menggunakan cara-cara yang sama.

“Kita harus menemukan cara-cara baru, mencari rel rel baru, kita tidak boleh melalui anak tangga yang dulu dilalui negara maju. Kalau itu kita lakukan, kita tidak mungkin bisa mendahuluinya, ini pasti. Oleh karena itu kita tidak cukup hanya naik tangga, kita harus melompat. Kalau tidak melompat, ya, jangan berharap kita bisa mendahului negara-negara lain yang sudah lebih maju dari kita,” tegas Jokowi lagi.

"Untuk mendahului kereta yang lain, tidaklah mungkin kita menggunakan rel yang sama, untuk mendahului negara yang lain tidaklah mungkin kita menggunakan cara-cara yang sama."

- Jokowi

Jokowi juga menyinggung Presidensi G20 yang kini diemban Indonesia. Ia menegaskan, momentum itu harus dimanfaatkan untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, untuk mewarnai arah dunia, dan untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang.

“Perjuangan ini adalah seperti perjuangan Bung Karno ketika mendukung perjuangan negara-negara jajahan untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan ini seperti perjuangan Bung Karno dalam memimpin negara-negara Asia-Afrika. Sekarang ini kita memimpin negara-negara terkaya dunia untuk membangun dunia yang lebih baik, yang lebih berkeadilan bagi kita semua bagi masyarakat masa depan dunia,” pungkasnya.

Pesan Bagi GMNI

Presiden Joko Widodo saat Penganugerahan tanda kehormatan Bintang Mahaputera, Bintang Budaya Parama Dharma, dan Bintang Jasa dalam penanganan pandemi Covid-19. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

Dalam sambutannya, Jokowi memiliki harapan khusus kepada alumni GMNI, yaitu tampil dalam kepemimpinan nasional. Menurutnya, alumni GMNI harus melahirkan pemikiran bagi kemajuan bangsa dan merumuskan strategi besar dalam membangun negara.

“Saya mengharapkan kontribusi persatuan alumni GMNI dan dalam berbagai arena kepemimpinan Indonesia,” ucap Jokowi.

“Melahirkan pemikiran pemikiran yang progresif, melahirkan pemikiran-pemikiran bagi kemajuan bangsa, menguatkan ikatan dan melahirkan gagasan-gagasan untuk menghadapi tantangan global, dan merumuskan strategi besar dalam membangun negara yang berkarakter Pancasila,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan sebagai rumah besar kaum nasionalis dan Marhaenis, persatuan alumni GMNI harus menjadi yang terdepan dalam merawat nasionalisme yang setia kepada Pancasila dan UUD 1945. Sebab menurutnya di tengah dunia yang semakin terbuka, dengan interaksi dan disrupsi yang semakin tinggi, nasionalisme hingga kedaulatan bangsa menghadapi tantangan-tantangan baru.

“Kedaulatan tidak bisa hanya dimaknai sebagai kemampuan mengusir penjajah. Kedaulatan bukan berarti memagari tidak ada pihak luar yang masuk ke tanah air kita. Kedaulatan bukan berarti menutup diri, tetapi kedaulatan adalah kemanfaatan maksimal untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” tutur Jokowi.

Saat menyampaikan pidato, Jokowi didampingi Mensesneg Pratikno. Sementara di lokasi acara, hadir Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Ketua PA GMNI Ahmad Basarah, dan seluruh alumni GMNI se-Indonesia.