Jokowi Gagas Indonesia Jadi Poros Wasathiyah Islam Dunia

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk menjadikan Indonesia poros wasathiyah (moderat) Islam di dunia. Tujuannya agar Indonesia dapat menjadi contoh bagi dunia tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

"Posisi Indonesia sangat jelas, kami mendorong dan berkomitmen untuk lahirnya poros wasathiyah Islam dunia," kata Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (1/5).

"Gerakan wasathiyah Islam harus menjadi gerakan bersama yang mendunia, yang dapat menginspirasi para pemimpin, ulama, kaum muda dan umat Islam agar tetap teguh pada jalur moderasi Islam," tambah dia.

Jokowi ajak makan siang peserta KTT ulama di Bogor (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi ajak makan siang peserta KTT ulama di Bogor (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)

Secara istilah, Islam wasathiyah adalah Islam yang pertengahan, tidak ekstrem ke kiri maupun ke kanan.

Demi mewujudkan terciptanya poros wasathiyah Islam, Jokowi mendorong adanya keterlibatan dari para ulama yang merupakan pewaris Nabi dan obor keteladanan umat.

"Jika para ulamanya bersatu-padu dalam satu barisan untuk membumikan moderasi Islam," ucapnya.

"Saya optimis Poros Wasatiyyat Islam Dunia akan menjadi arus utama, yang akan memberikan harapan lahirnya dunia, aman, sejahtera, dan berkeadilan," tegasnya.

Jokowi ajak makan siang peserta KTT ulama di Bogor (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi ajak makan siang peserta KTT ulama di Bogor (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)

Selain mendorong pembuatan poros baru, di depan 100 ulama dunia yang hadir Jokowi memuji kemajuan di negara-negara mayoritas Islam. Terutama di bidang pembangunan ekonomi, politik, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Di negara-negara muslim berkembang begitu pesatnya. Tidak kalah dibanding negara-negara di belahan dunia yang lain," ucap Jokowi.

Di depan para ulama, Jokowi memperkenalkan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

"Warga negara kami yang beragama Islam sekitar 210 juta dari total penduduk 260 juta. Ada 714 etnis, ada 1100 lebih bahasa lokal, mereka hidup tersebar di 17 ribu pulau, kami hidup dalam keberagaman, berbeda agama, beragam suku dan beragam budaya," tutur Jokowi.

Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

Menurut Jokowi, keberagaman mampu dijaga karena Indonesia memiliki dasar negara Pancasila serta semboyan Bhineka Tunggal Ika.

"Keberagaman adalah anugerah Allah SWT, yang harus kita rawat. Keberagaman adalah sumber kekuatan, yang membuat kami menjadi bangsa yang kuat," jelasnya.

Walau saat ini Indonesia berhasil menjaga keberagaman, tidak berarti bangsa Indonesia boleh lengah.

Jokowi pun di depan para ulama dunia tersebut menegaskan, RI akan terus memupuk ajaran perdamaian dan persatuan yang mengutamakan musyawarah.

Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

Tidak cuma membahas bagaimana kehidupan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Dalam kesempatan tersebut Jokowi mengingatkan agar umat Islam dunia melihat perkembangan teknologi, terutama media sosial.

Dirinya berpesan agar media sosial tidak dipakai menyebar ujaran kebencian. Menurutnya, media sosial atau sarana penyampaian pesan lain semestinya dipakai demi menyebarkan menguatnya semangat moderasi dalam gerakan Islam di dunia.

"Kita bisa berbagi pengalaman dalam mengembangkan tolerasi, mengembangkan musyawarah, mengambil jalan tengah, dan menjadi pelopor bagi kemaslahatan umat manusia," kata Jokowi.

Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

Selain itu mendorong pembuatan poros baru, di depan 100 ulama dunia yang hadir Jokowi memuji kemajuan di negara-negara mayoritas Islam. Terutama di bidang pembangunan ekonomi, politik, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Di negara-negara muslim berkembang begitu pesatnya. Tidak kalah dibanding negara-negara di belahan dunia yang lain," ucap Jokowi.

KTT Bogor Dihadiri Ulama Dunia

KTT yang bertemakan High Level Consultation Meeting World Muslim Scholars on Wasathiyah Al-Islam diikuti oleh ulama dari Mesir, Uni Emirat Arab, Kuwait, Lebanon, dan Aljazair. Ada pula perwakilan ulama dari Singapura, Filipina, India, China, Australia, Bangladesh, Prancis, Kanada, Amerika Serikat, dan Brunei Darussalam.

Tokoh Islam dunia yang hadir dalam KTT di Bogor ini di antaranya, Imam Besar Al Azhar Prof Dr Ahmad Muhammad Ath-Thayeb, Imam Besar Masjidil Haramnya Abdullah M Bin Himeid, Imam Besar Damaskus Abdul Fattah Bizm, Imam Besar Algiers Aljazair Sheikh Abdul Karim Dibaghi, Imam Besar Singapura Mohamed Faris Bakaram, serta Kepala MILF Filipina Murad Ebrahim.

Pada acara ini terlihat pula kehadiran dari beberapa ulama nasional serta tokoh Islam nusantara seperti, Ketua Umum PBNU Prof KH Said Aqil Siradj, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Antar agama dan Peradaban Din Syamsudin, Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama KH Yusnar Yusuf, Ketua MUI Bidang Luar Negeri KH Muhyiddin Junaidi, Sekjen PBNU Helmy Faishol, Ketua IKADI Ahmad Satori Ismail, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, serta Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Amin Abdullah.

Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi ajak peserta KTT Ulama Salat berjamaah (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

Akan ada empat hal mengenai wasathiyah yang akan didiskusikan dalam pertemuan di Bogor dan Jakarta dari 1 hingga 4 Mei 2018 ini.

"(Pertama) Meliputi bagian konsepsi wasathiyah Islam itu sendiri, kedua yaitu penerapan wasathiyah Islam dalam peradaban global, ketiga wasathiyah Islam dalam tantangan global, dan keempat wasathiyah Islam Indonesia dalam pengalaman itu sendiri," sebut Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban, Din Syamsuddin.