Jokowi: Kasus Corona di Surabaya Raya Paling Tinggi, Harus Dikendalikan Dulu

kumparanNEWSverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan sarana publik dalam penerapan prosedur standar tatanan baru atau new normal di salah satu pusat niaga di Kota Bekasi. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan sarana publik dalam penerapan prosedur standar tatanan baru atau new normal di salah satu pusat niaga di Kota Bekasi. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

Presiden Jokowi mengunjungi Jawa Timur untuk meninjau penanganan corona di sana. Ia mewanti-wanti wilayah Surabaya Raya yang masih jadi episenter corona.

"Saya lihat memang yang paling tinggi adalah di Surabaya Raya. Ini adalah wilayah aglomerasi yang harus dijaga terlebih dahulu, dikendalikan terlebih dahulu," ujar Jokowi saat rapat dengan Gubernur Jatim dan jajarannya, Kamis (25/6).

Ia menambahkan, Surabaya Raya itu termasuk Gresik dan Sidoarjo. Jadi management crisis di tiga titik ini harus pentahelix.

embed from external kumparan

"Enggak bisa Surabaya sendiri. Gresik harus dalam satu manajemen, Sidoarjo satu manajemen dan kota/kabupaten yang lain," ujar dia.

Sebab, kata Jokowi, mobilitas di tiga wilayah itu tinggi. Jadi, pengendalian kasus di Surabaya Raya sangat mempengaruhi pertumbuhan kasus di Jatim.

"Arus mobilitas yang keluar masuk bukan hanya Surabaya, tapi juga daerah ikut berpengaruh naik dan turunnya angka COVID ini," tutur Jokowi.

Dalam tiga pekan terakhir, pertumbuhan kasus corona di Jatim terus naik. Sama dengan Jakarta, pekan teranyar (18-24 Juni) di Jatim juga mencatatkan rekor sebanyak 1.765 kasus.

Hingga Rabu (24/6), kasus corona di Jatim sudah tembus 10. 298 kasus. 2.915 di antaranya sudah dinyatakan sembuh, sementara 750 lainnya meninggal dunia

Surabaya Raya menjadi penyumbang kasus terbanyak, dengan presentasi sekitar 70 persen.

-------

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.