Jokowi Ngerem Dukungan Prabowo-Gibran 2 Periode, Peluang Duet Dinilai Menipis

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto (kiri) bersalaman dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka usai Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto (kiri) bersalaman dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka usai Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Pengamat politik Adi Prayitno menanggapi pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang kini menyebut Pemilu 2029 masih jauh ketika ditanya kembali soal dukungannya terhadap pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.

Perubahan sikap ini terjadi setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang tidak menemukan bukti ijazah SMA atau setara milik Wapres Gibran Rakabuming Raka.

Sebelumnya, Jokowi beberapa kali menyatakan dukungan agar Prabowo-Gibran kembali berpasangan pada Pilpres 2029. Pada 30 Januari 2026, Jokowi bahkan secara tegas menyampaikan dukungannya.

“Kan sudah saya sampaikan, Prabowo-Gibran dua periode,” kata Jokowi di kediamannya di Solo pada 30 Januari 2026.

Namun, beberapa bulan berselang, saat kembali ditanya mengenai hal tersebut pada Kamis (8/10), Jokowi memberikan jawaban berbeda.

“Pemilu masih jauh,” kata Jokowi.

Menanggapi hal itu, Adi Prayitno menilai terdapat dua hal yang dapat menjelaskan perubahan pernyataan Jokowi terkait dukungan terhadap duet Prabowo-Gibran untuk dua periode.

“Bisa karena dua hal. Pertama karena peluang duet Prabowo-Gibran 2 periode sangat kecil, bahkan bisa tertutup. Kedua, partai koalisional pendukung prabowo tak ada yang minat dengan Gibran sebagai cawapres Prabowo di 2029,” kata Adi.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno. Foto: Dok. Istimewa

Adi kemudian menegaskan bahwa peluang duet Prabowo-Gibran untuk kembali berpasangan pada Pilpres 2029 semakin menipis. Ia merujuk pada hasil survei Parameter Politik pada Juli-Agustus yang menunjukkan 70 persen responden tidak setuju dengan duet tersebut untuk dua periode.

“Peluang duet Prabowo-Gibran 2 periode kecil, bahkan menipis. Survei Parameter Politik di bulan Juli-Agustus mayoritas publik tak setuju duet ini 2 periode,” ujar Adi.

Selain itu, Adi menyoroti sikap partai-partai koalisi pendukung Prabowo yang dinilainya tidak berminat kembali mengusung Gibran sebagai calon wakil presiden pada 2029. Ia juga menyinggung persoalan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ijazah Gibran yang menurutnya semakin memengaruhi sikap partai-partai koalisi.

“Apalagi setelah putusan MK soal ijazah Gibran makin membuat partai koalisi tak mau duet ini berlanjut 2 periode,” kata Adi.

Menurut Adi, sikap partai-partai koalisi tersebut seolah menunjukkan bahwa dukungan terhadap Prabowo tidak serta-merta berarti dukungan terhadap Gibran untuk kembali mendampinginya.

“Partai koalisi ini seakan mau bilang untuk 2029; Prabowo Yes, Gibran No,” ujarnya.

Meski demikian, Adi menilai Jokowi masih memiliki keinginan untuk mendorong Gibran maju kembali dalam kontestasi politik pada 2029. Namun, ia mengingatkan adanya persyaratan administratif yang harus dipenuhi sebelum membicarakan peluang pencalonan tersebut.

“Pasti minat, tapi harus ikuti syarat administratif pencalonan minimal ijazah SMA atau yang sederajat, tanpa ini tak bisa. Gembok ini dulu yang diberesin, baru bicara minat maju,” tutup Adi.