Jokowi: Penanganan COVID-19 di RI pada Posisi Baik, tapi Pandemi Belum Berakhir

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo pada peresmian Pembukaan Apkasi Otonomi Expo Tahun 2021, Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (20/10). Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo pada peresmian Pembukaan Apkasi Otonomi Expo Tahun 2021, Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (20/10). Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Jokowi meminta penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia harus tetap disikapi dengan hati-hati meski situasinya sudah semakin membaik. Ia meminta sejumlah indikator yang ditetapkan WHO diperhatikan dengan baik, seperti bed occupancy ratio (BOR), positivity rate, hingga laju reproduksi efektif (Rt), yang persentasenya sudah di bawah standar yang ditetapkan.

Hal ini disampaikan Jokowi saat memberikan pengarahan kepada para kepala daerah se-Indonesia secara virtual di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (25/10) kemarin.

"Artinya, [kita] pada posisi yang baik, pada posisi yang rendah. Tetapi perlu saya ingatkan bahwa pandemi ini belum berakhir," kata Jokowi dalam keterangan tertulis yang dirilis BPMI, Selasa (26/10).

Sebagaimana diketahui, perkembangan kasus harian telah menurun drastis jika dibandingkan dengan kasus saat puncak penularan yang sempat mencapai 56.000 kasus positif. Dalam empat hari terakhir, kasus harian relatif rendah, yakni 760 kasus pada 22 Oktober, 802 kasus pada 23 Oktober, 623 kasus pada 24 Oktober, dan 460 kasus pada 25 Oktober.

Presiden Jokowi didampingi Kepala BIN Budi Gunawan saat meninjau vaksinasi COVID-19 untuk pelajar di Kabupaten Madiun, Kamis (19/8/2021). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Meski demikian, Jokowi juga mengingatkan tren kasus positif di dunia dalam minggu ini mengalami kenaikan sekitar 2%. Di Eropa, misalnya, dalam minggu ini naik sampai 23%. Sementara di Amerika Selatan naik 13%.

"Inilah yang harus mengingatkan kita, bahwa kita harus tetap pada posisi hati-hati, pada posisi waspada karena dunia masih dihadapkan pada ketidakpastian. Sekali lagi, terjadi tren kenaikan kasus dunia," tegasnya.

Jokowi mengungkapkan tren kenaikan kasus masalahnya ada pada tiga hal. Pertama, relaksasi yang terlalu cepat dan tidak melalui tahapan-tahapan. Kedua, protokol kesehatan yang tidak disiplin lagi, misalnya kebijakan lepas masker di sejumlah negara. Dan ketiga, pembelajaran tatap muka di sekolah.

"Hati-hati juga mengenai sekolah, yaitu pembelajaran tatap muka. Tiga hal ini agar kita semuanya hati-hati," tegasnya lagi.

Presiden Joko Widodo. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

Menurut Jokowi, protokol kesehatan di sekolah harus dijalankan secara disiplin dan ketat, terutama di sejumlah area seperti kantin dan tempat parkir. Jokowi juga meminta agar para kepala daerah dan seluruh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk turut mengingatkan pihak sekolah.

"Kita juga perlu pengawasan lapangan. Manajemen pengawasan lapangan ini sangat diperlukan sehingga kejadian-kejadian yang ada di negara lain tidak terjadi di sini," ungkapnya.

"Saya berharap agar pembelajaran tatap muka terus didorong, tetapi juga percepatan vaksinasi terhadap anak-anak kita, murid-murid kita juga dipercepat. Pendidikan yang tetap berkualitas harus kita hadirkan di tengah-tengah anak didik kita," pungkasnya.