Jokowi: Pusingnya Belum Reda, Tambah Lagi Ada Perang
·waktu baca 2 menit

Presiden Jokowi menyebut masalah bertubi-tubi yang dihadapi Indonesia juga dirasakan oleh negara-negara lainnya. Belum rampung dengan pandemi COVID-19, ia menyebut invasi Rusia terhadap Ukraina sekarang ini juga menambah beban negara dalam mengatur keuangan.
"Betapa tidak gampangnya mengelola APBN, mengelola keuangan di situasi yang sangat extraordinary ini," tuturnya dalam sambutan Dies Natalis ke-46 UNS, Jumat (11/3).
"Tambah pusing kita semuanya, semua negara tambah pusing semuanya. Pusingnya belum reda, tambah lagi ada perang," imbuhnya.
Ia menyebut masa depan global semakin penuh oleh ketidakpastian. Kondisi dunia yang membuat segala situasi yang tak pernah diperkirakan muncul. Dari pandemi COVID-19 hingga invasi Rusia terhadap Ukraina.
Invasi Rusia tersebut disebut menimbulkan kelangkaan energi yang berimbas pada peningkatan harga minyak.
"Kita tahu, 2020 minyak harganya hanya kira-kira 60-an, 60 dolar AS per barel. Hari ini kira-kira 115 (dolar AS). Itu pun sebelumnya minggu lalu sudah di angka 130. Dua kali lipat, semua negara harga jualnya ke masyarakat sudah naik juga. Kita di sini masih nahan-nahan. Bu Menteri Sri Mulyani, saya tanya, 'Gimana, Bu? Tahannya sampai berapa hari ini?'" kata Jokowi menirukan kembali pertanyaannya kepada Menkeu Sri Mulyani.
Selain pada peningkatan harga minyak dan kelangkaan energi, menurut Jokowi, ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga berdampak pada harga gandum.
"Karena hampir 20% lebih gandum itu dari Ukraina dan Rusia, (harga) naik sangat drastis. Kalau dilihat angka-angka, waduh, di Rusia naik 12%, Amerika naik 6,9%, Turki 5,5%. Alhamdulillah kita masih di angka 3%. Tapi sampai kapan kita bisa menahan seperti ini?" ujarnya.
Jokowi juga mengungkapkan terjadinya kelangkaan kontainer yang mengakibatkan harganya naik berkali lipat.
"Dulu naik dua kali, naik tiga kali, naik empat kali, naik lima kali. Artinya apa? Barang-barang logistik sampai ke konsumen pun karena terbebani harga kontainer yang naik menjadi juga dibeli lebih mahal. Efeknya ke mana-mana," tuturnya.
Kenaikan dan kelangkaan yang terjadi akhirnya memicu kenaikan inflasi. Jokowi mengingatkan untuk berhati-hati mengelola ekonomi saat ini.
"Ekonomi makronya dikelola, tapi mikronya tidak diperhatikan bisa buyar. Artinya apa? Kerja sekarang ini harus kerja detail. Kalau enggak detail, enggak akan menyelesaikan masalah. Untungnya inflasi negara kita masih terkendali dengan baik, masih 2,2%," ungkapnya.
