Jokowi soal 2 Anggota TNI Diserang Israel: Keadaan Perang, Kita Perlu Hati-hati
·waktu baca 2 menit

Presiden Jokowi minta anggota TNI bertugas di Lebanon agar berhati-hati. Permintaan itu disampaikan menyusul serangan Israel yang melukai dua TNI anggota misi UNIFIL.
“Keadaannya dalam keadaan perang seperti itu, jadi kalau ada yang terkena, luka ringan ya itu yang perlu kita semuanya hati-hati, terutama yang ada di sana,” kata Jokowi kepada wartawan di IKN, Kaltim, Jumat (11/10).
Insiden yang menimpa anggota TNI itu tepatnya terjadi pada Kamis (10/10). Lokasi kejadian di Naqoura, selatan Lebanon, adalah wilayah pertempuran antara Israel melawan milisi Syiah, Hizbullah.
Israel sudah mengakui insiden yang melukai dua orang anggota TNI tersebut.
Adapun Menlu RI Retno Marsudi mengutuk keras aksi Israel. Retno kemudian meminta penyelidikan menyeluruh agar pelaku serangan bisa dimintai pertanggungjawaban.
"Indonesia tegaskan serangan apa pun terhadap peacekeepers adalah pelanggaran berat hukum humaniter internasional dan resolusi DK PBB 1701 sebagai dasar mandat UNIFIL," kata Retno.
Retno menambahkan, saat ini dua orang anggota TNI yang terluka ditembak Israel sedang mendapat perawatan. Mereka menerima tindakan medis di rumah sakit sekitar lokasi kejadian
Sementara itu, tak hanya Indonesia, kecaman serupa disampaikan negara-negara seperti Italia, Spanyol, sampai Irlandia.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan jumlah anggota pasukan perdamaian UNIFIL terbanyak.
Sejarah UNIFIL dan Peran Indonesia
UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon atau Pasukan Sementara PBB di Lebanon) didirikan pada tanggal 19 Maret 1978 melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 425 dan 426, menyusul invasi Israel ke Lebanon selatan pada tahun itu. Tujuan awal UNIFIL adalah untuk:
1. Memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon.
2. Mengembalikan perdamaian dan keamanan internasional.
3. Membantu pemerintah Lebanon mengembalikan otoritasnya di wilayah tersebut.
Namun, peran UNIFIL berkembang seiring waktu. Setelah perang Lebanon 2006 antara Israel dan Hizbullah, Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 memperluas mandat UNIFIL. Ini mencakup tugas tambahan seperti:
Mengawasi penghentian permusuhan.
Mendukung pasukan Lebanon dalam mengamankan wilayah perbatasan selatan.
Membantu memastikan bahwa area di selatan Sungai Litani bebas dari kelompok bersenjata selain tentara Lebanon.
Indonesia mulai mengirim pasukan TNI untuk bergabung dengan UNIFIL pada 2006.
Sejak saat itu, Kontingen Garuda (Konga), nama pasukan penjaga perdamaian Indonesia, setiap tahun secara rutin mengirimkan pasukan untuk bergabung dengan UNIFIL.
Indonesia menjadi penyumbang pasukan terbesar di misi ini, jumlahnya lebih 1.200 orang. Mereka bertugas melakukan patroli, membantu menjaga stabilitas di perbatasan, serta mendukung misi kemanusiaan dan pembangunan di Lebanon.
