Jokowi soal Fitnah Antiulama: Bagai Propaganda Rusia, Semburkan Dusta

Banyak hal yang disampaikan calon presiden nomor urut 01, Jokowi saat bertemu simpatisannya yang tergabung dalam pengusaha kayu dan mebel. Salah satunya soal fitnah terkait antiulama
Padahal menurut Jokowi, ia setiap minggu selalu keluar masuk pesantren dan berusaha dan selalu berdiskusi dengan para ulama. Begitu pun dengan cawapresnya saat ini, Ma'ruf Amin yang merupakan seorang ulama dan masih menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Menurutnya, fitnah-fitnah yang selalu dialamatkan kepadanya seperti propaganda Rusia. "Yang pertama itu saya tiap minggu keluar masuk pondok pesantren dengan ulama. Yang tanda tangan hari santri, perpresnya itu siapa. Dan sekarang wakilnya siapa? Mental lagi," kata Jokowi di Pabrik Gula De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/2). "Tapi kalau dibolak-balik seperti ini, seperti yang saya sampaikan, teori propaganda Rusia seperti itu. Semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoaks sebanyak-banyaknya sehingga rakyat, masyarakat menjadi ragu," lanjut dia. Jokowi kemudian menyindir para lawan politiknya yang menyebarkan fitnah tersebut rata-rata memiliki konsultan asing. Padahal isu-isu seperti ini akan memecah belah rakyat. Jokowi menganggap hal itu karena lawan politiknya memakai konsultan asing. "Memang teorinya seperti itu. Yang dipakai konsultan asing. Enggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, enggak mikir menganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak, membuat rakyat takut, enggak peduli," ucap Jokowi. Jokowi pun meminta kepada masyarakat agar tidak mempercayai perkataan politikus-politikus yang menjadi lawannya. Jokowi menyebut justru lawan politiknya yang merupakan antek asing, karena menggunakan jasa konsultan dari orang asing.
"Terus yang antek asing siapa? Jangan sampai kita disuguhi kebohongan yang terus-menerus. Rakyat kita sudah pintar, baik yang di kota atau di desa," bebernya. Terakhir, menjelang pilpres dan pileg, Jokowi ingin simpatisannya bisa menyampaikan kebenaran pada rakyat. "Yang paling penting bagaimana karena waktu kita tinggal 2,5 bulan. Kita kerja sampaikan yang benar itu benar, jangan dibalik-balik. Gampang kok," tutur Jokowi.
